(Menelusuri Jejak Kuasa-Seksualitas Michel Foucault)?
Prolog
Tak dapat disangkal, kendati masih sulit diikuti pemikirannya, Michel Foucault dapat dipastikan merupakan salah satu pemikir yang penting untuk zaman kita ini. Filsuf yang akhir hidupnya menderita AIDS ini menyisakan sejumlah persoalan. Tak bisa kita pungkiri pula, filsuf yang berkepala botak dan menyukai hubungan intim dengan pria sejenis ini banyak meninggalkan gagasan dan wawasan-wawasan baru yang sangat menantang, merangsang dan menggugah. Michel Foucault dikenal sebagai satu dari sedikit pemikiran dan sejarawan Perancis yang merintis arah baru karya teoritis seputar sains manusiawi “human sciences”. Namanya sering diidentikkan dengan mazhab filsafat dekonstrusionisme dan disebut-sebut sebagai filsufpaling representatif untuk gaya pemikiran post-strukturalis.
Penelusuran atas wacana kuasa dan sexualitas yang dikemukakannya tidak berarti kita mengikuti sikap dan gaya hidup yang lantas menggiring kita untuk ber-uswah pada penderitaan AIDS yang mengeksekusinya. Lalu, kenapa ini kita lakukan juga? Ini semata-mata hanyalah tugas dan kewajiban kita untuk senantiasa “memelototi” dan “melek” dengan sejumlah hal yang berceceran di atas panggung intelektual dunia kontemporer hari ini. Bisa kita pastikan, ini hanyalah sekedar pembacaan yang ala kadarnya yang boleh jadi tidak sesuai dengan apa yang ada di batok kepala Foucault sendiri (Emang jawabannya di atas?). Sekalipun begitu kita berharap, ada jejak yang bisa kita potret dan bisa memberikan sekedar pencerahan tentang makna kuasa dan seks yang selama ini (mungkin) kita salah memahaminya.
Menabur Kuasa Menuai Wacana
Cara Foucault memahami kekuasaan sangatlah orisinal. Menurut Bertens –ini saya punya bukunya, pemaparan kuasa yang dikemukakan Foucault tidak bermaksud mengemukakan suatu metafisika tentang kuasa, tetapi suatu mikro-fisika. Artinya, masalahnya bukannya “apakah itu kuasa”, melainkan “bagaimana berfungsinya kuasa” pada suatu bidang tertentu. Kuasa, biasanya disamakan dengan milik. Kuasa dianggap sebagai sesuatu yang dapat diperoleh, diperebutkan, ditambah atau dikurangi. Dalam pandangan Foucault, kuasa tidaklah demikian pemaknannya. Kuasa bukanlah definisi sebagaimana yang dikemukakan oleh paradigma Weberian, yakni kemampuan subjektif untuk mempengaruhi orang lain. Ia juga bukan pemaknaan yang diyakini oleh kaum Marxis sebagai artefak material yang bisa dikuasai dan digunakan oleh kelas tertentu untuk mendominasi dan menindas kelas lain. Ia bukan pula institusi, struktur atau kekuatan dalam masyarakat. Kuasa tidak dimiliki tetapi dipraktekkan dalam suatu ruang lingkup dimana ada banyak posisi yang secara strategis berkaitan satu sama lain dan senantiasa mengalami pergeseran.
Dengan kata lain, kekuasaan tidak mengacu pada satu sistem umum dominasi oleh suatu kelompok tertentu terhadap yang lain, tetapi beragamnya hubungan kekuasaan. Syarat-syarat kemungkinan pemahaman kekuasaan tidak terpusat pada satu titik atau satu sumber otoritas. Menurut Foucault, “Kekuasaan bukan suatu institusi, dan bukan suatu struktur, bukan pula suatu kekuatan yang dimiliki; tetapi nama yang diberikan pada suatu situasi strategis kompleks dalam suatu masyarakat. Kekuasaan ada dimana-mana; bukannya bahwa kekuasaan mencakup semua, tetapi kekuasaan itu datang dari mana-mana. Melalui bukunya “Surveiller et Punir” -–yang buku aslinya tidak sampai ke tangan saya, ia mengatakan bahwa “kekuasaan yang menormalisasi tidak hanya dijalankan di dalam penjara, tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan, pengetahuan, disiplin diri dan kesejahteraan.”
Kalau kita telisik secara lebih dalam, pemikiran Foucault tentang kekuasaan pada kenyataannya mau memeriksa salah satu proses peradaban Barat, yaitu agresi dan teror yang dilakukan rasio dengan kepastian-kepastian filsafat “Pencerahan”. Agresi rasio dengan kepastian-kepastian yang dibawa oleh filsafat “Pencerahan” ini mendapat kritik tajam dari Foucault, yakni terhadap filsafat sejarah yang terlalu percaya pada sistem dan terhadap metode pembahasannya. Dalam kerangka ini, menurut Sugiharto (1994) Titik pijak Foucault tentu saja adalah strukturalisme yang pada mulanya dipakai untuk meluruskan jalan berpikir Kant tentang subjek beserta segala bangunan ide yang didasarkan kepada filsuf protagonis Pencerahan ini. Cara kerja Foucault ialah melalui analisa historis atas gagasan-gagasan dasar yang telah membentuk kita sebagai subjek maupun objek pengetahuan. Dengan cara ini, Foucault mau mempersoalkan segala hal yang biasanya dianggap normal, rasional, universal dan mutlaq dan gamblang dengan sendirinya. Ini terutama dilacak dengan melihat hubungan-hubungan kekuasaan dalam sejarah.
Karena itulah, filsuf yang dipengaruhi metodologi Nietzsche ini menolak mengambarkan sejarah ilmu-ilmu sebagai sejarah kemajuan, gerak tunggal, seakan-akan diarahkan menuju satu tujuan dan berhenti pada tahta kesempurnaan rasio. Tujuan ini ialah menjelaskan kesadaran manusia dan meningkatkan penguasaan manusia terhadap dunia demi kesejahteraannya. Gagasan sejarah seperti ini menurut Foucault patut dicurigai (kesimpulannya gagasan saudara, saya tolak!!), seakan-akan kejadian itu hanya mempunyai satu sebab tunggal. Padahal sebab tidak selalu tunggal. Cara berpikir seperti ini cenderung menafikan perbedaan. Saat konflik hanya dianggap sebagai krisis dalam tahap perkembangan manusia yang sedang mewujudkan hakikatnya. Kebanyakan agama mempunyai konsep sejarah telelologis seperti itu sehingga menerima perbedaan cenderung dianggap tidak koheren dengan hakikatnya. Atau bila menerima perbedaan hanya semu, yakni ketika agama sebagai yang paling benar.
Foucault yang anti-finalis mempertimbangkan adanya keberagaman hasil tindakan manusia dan kekhasan setiap konsepsi baru tentang dunia. Konsepsi sejarahnya memperhitungkan tentang keterputusan, diskontinuitas, kontradiksi. Pertimbangan yang dikemukakan oleh Foucault ini harus kita akui merupakan upaya dia untuk memberikan kesempatan terdapatnya ruang yang dapat memberi tempat dan menjadi kerangka bagi berbagai-bagai representasi dunia. Gagasan dan representasi selalu dikondisikan oleh zamannya masing-masing.
Dengan menekankan asal-usul subjek modern seperti yang telah dikemukakan di atas, Foucault tidak memisahkan kuasa dan pengetahuan. Penelitiannya tentang subjek modern melalui bentuk-bentuk pengetahuan, praktik, dan wacana terfokus pada kuasa-pengetahuan. Bagi Foucault, jadinya, kekuasaan bukanlah sesuatu yang dimiliki dan bersumber dari subjek. Kekuasaan adalah suatu “jejaring” atau medan-medan hubungan, dimana para subjek sebetulnya merupakan produks sekaligus agen kekuasaan. Kekuasaan ini tidak selalu dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Kekuasaan pada dasarnya bersifat positif, produktif dan ‘kapiler” –ia bersirkulasi ke seluruh sel dan seluruh urat-urat sosial. Ia adalah aspek dari setiap praktik sosial, hubungan sosial dan institusi sosial. Dan sisi positif kekuasaan ini dalam dunia modern dikelola oleh tekhnologi-kekuasaan sedemikian sehingga ia tidak tampil nyata sebagai kekuasaan.
Kalau dulu kekuasaan termanipestasikan dalam bentuk peperangan. Peperjuangan. Pepelarangan atau melawan pepelarangan. Dewasa ini kekuasaan menjelma dalam bentuk “manajemen enerji”, yakni kemampuan dan kehidupan masyarakat yang tidak mungkin mengabaikan pengetahuan. Tes, wawancara, jajak pendapat, dan konsultasi merupakan ritus-ritus kebenaran buah-buah kekuasaan. Kegiatan-kegiatan tersebut memiliki kriteria keilmiahan yang menjadi ukuran kebenaran, yang pada gilirannya membentuk individu. Jadinya adalah, sebagaimana tertuang dalam bukunya Power/Knowlewdge (katanya!), kebenaran ataupun pengetahuan tidaklah berada di luar kekuasaan ataupun merupakan pahala bagi ruh yang bebas. Pengetahuan ataupun kebenaran adalah urusan yang sama sekali duniawi: diproduksi hanya melalui segala bentuk pengekangan. Kesimpulannya adalah! Pengetahuan ataupun kebenaran adalah produk kekuasaan. Setiap masyarakat memiliki rezim kebenarannya sendiri, memiliki semacam “pulitik (baca: po) kebenaran”.
Dengan demikian, kekuasaan tidak bisa dipisahkan dari pengetahuan. Psikologi mendefinisikan pribadi yang dewasa. Lalu kriteria ini menjadi model identifikasi atau ideal yang harus dicapai. Individu memang hasil representasi ideologis masyarakat, namun individu juga merupakan realitas yang diciptakan oleh tekhnologi kekuasaan atau disiplin.
Dalam masyarakat modern, semua tempat berlangsungnya kekuasaan juga menjadi tempat pembentukan pengetahuan (tentang kegilaan, seks dan produksi, misalnya). Fenomena kegilaan menjadi lahan yang subur bagi psikiatri, psikologi dan kedokteran. Wacana Seksualitas merupakan sumber berkembangnya psikoanalisis, psikologi, kedokteran, kriminologi, etika bahkan teologi. Produksi mendorong lahirnya perkembangan ilmu ekonomi, sosiologi dan psikologi. Demikian sebaliknya, semua pengetahuan memungkinkan dan menjamin beroperasinya kekuasaan. Kehendak untuk mengetahui menjadi proses dominasi terhadap objek-objek dan terhadap manusia. Pengetahuan adalah cara bagaimana kekuasaan memaksakan diri kepada subjek tanpa memberi kesan bahwa ia datang dari subjek tertentu, karena kriteria keilmiahan seakan-akan mandiri terhadap subjek. Padahal, klaim itu merupakan bagian dari strategi kekuasaan.
Faucault mendefinisikan strategi kekuasaan sebagai yang melekat pada kehendak untuk mengetahui. Melalui wacana, kehendak untuk mengetahui terumuskan dalam pengetahuan, karena ilmu-ilmu terumus dalam bentuk-bentuk pernyataan.
Kekuasaan-pengetahuan terkonsentrasi di dalam kebenaran pernyataan-pernyataan ilmiah. Oleh karena itu, semua masyarakat berusaha menyalurkan, mengontrol, dan mengatur wacana mereka agar sesuai dengan tuntutan ilmiah. Wacana macam ini dianggap mempunyai semacam otoritas. Pengetahuan seperti yang telah saya omongkan di atas, tidaklah bersumber pada subjek , tetapi dalam hubungan-hubungan kekuasaan. “Kekuasaan menghasilkan pengetahuan … Kekuasaan dan pengetahuan saling terkait… tidak ada hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan, dan tidak pengetahuan yang mengandaikan serta tidak membentuk sekaligus hubungan kekuasaan.
Wacana Seksualitas sebagai Scientia Sexualis
Bukan hanya wacana kuasa yang menggelisahkan Foucault. Seksualitas juga membuatnya gundah. Namun bukan seks an sich yang menggoda hati sang filsuf ini. Sebab, Foucault pernah berujar bahwa “seks adalah topik yang sangat membosankan”. Foucault hanya bergairah pada wacana-wacana tentang seksualitas yang mewarnai babakan-babakan setiap sejarah. Ketertarikannya pada sejarah seksualitas paling tidak dipicu oleh tiga hal. Pertama, ia ingin mendekonstruksi klaim bahwa masyarakat Barat telah mengalami apa yang digembar-gemborkan sebagai revolusi seksual. Kedua, ia ingin membuktikan bahwa seksualitas adalah fakta sejarah yang sarat makna dan kuasa –-bukan sesuatu yang alamiah. Ketiga, ini yang terpenting, ia ingin membuktikan konsepsinya tentang kuasa yang tidak represif.
Periode Victorian oleh banyak kalangan dinilai sebagai periode yang sangat represif dan puritan. Gabungan antara kekakuan borjuasi dan kesucian Gereja menghasilkan masyarakat yang puritan, dan tertutup. Yang menyimpang (baca: menyukai “daging” sembarangan) liar dan kotor harus disingkirkan dari permukaan publik. Kuasa mengkonkretkan diri dalam hukum, tabu, dan larangan.
Seks ditafsirkan sebagai salah satu bentuk ekskpresi manusia barbar dan karena itu harus dikontrol supaya tetap terpusat pada moralitas Kristiani: heteroseksual dan marital. Politik bahasa yang represif terhadap seks pun digelar. Kapan dan dimana orang bisa membicarakan seks dengan ketat ditentukan. Pada situasi apa, antara siapa, dan dalam relasi sosial apa juga diawasi dan dipastikan. Sebuah kontrol bahasa super ketat yang membuat seks kehilangan ruang ekspresinya. Seks menjadi , bisik-bisik, erangan-erangan halus di ruang yang sangat pengap dan sempit.
Persepsi umum tentang periode Victorian yang represif terhadap seks tersebut, menurut Foucault, salah kaprah. Penelusuran historis yang dihasilkan Foucault memberikan kesimpulan yang asimetris. Seks, sebaliknya, jauh dari terdiamkan malahan meledak, berkecambah, dalam berbagai bentuk wacana. Ia bukannya menghilang, perbincangan seputar seks dan “daging” justeru berebut, susul menyusul menyerbu ruang publik.
Dewasa ini sebagaimana yang dapat kita lihat, berbagai institusi bermunculan bukan sebagai badan sensor melainkan justeru sebagai situs dimana orang dituntut membicarakan segala hal-ihwal tentang seks. Seks tidak lagi ingin dilenyapkan melainkan dikenali, dianalisis, dan dinilai. Foucault menunjuk dua faktor utama penyebab mewabahnya wacana seks, yakni praktik (baca: tek) pengakuan dosa dan praktik (masih baca: tek) regulatif yang disebutnya bio-power. Yang pertama bekerja atas dasar moral,sedang yang kedua dipijakan di atas landasan rasional.
Pulitik (masih tetap baca: po) bahasa yang represif terhadap seks tidak berlaku dalam praktek pengakuan dosa. Kata imperatif yang wajib berkerja bukannya, “Diam!” melainkan “Katakan segalanya!” Pratek pengakuan dosa dalam gereja menuntut umat mengatakan segalanya dari mulai perzinahan, masturbasi, peting, rabaan sensual, pandangan-pandangan kotor sampai fantasi-fantasi liar. Jadinya, menurut Foucault praktek pengakuan dosa dalam adalah eksplorasi dan ekstensifikasi larangan jangan berzina.
Bersamaan dengan munculnya praktek pengakuan dosa, seks pun bergeser dari persoalan “apa yang kamu lakukan dengan tubuhmu” pada persoalan “cara beradamu sebagai subjek seks”. Fokus gereja bukan lagi para perilaku homoseksual melainkan cara berada homoseksual, yakni sikap mental yang mempengaruhi perilaku seseorang. Gereja bukan lagi sekedar mengawasi perilaku fisik, melainkan melakukan infiltrasi lebih dalam pada pembenahan sikap mental seseorang. Otoritas majelis Gereja adalah majlis korektor yang bertugas mengembalikan subjektifitas seksual seseorang pada jalan yang benar. Tujuan Gereja dalam hal ini sangat jelas yaitu mendiskualifikasi bentuk-bentuk seksualitas yang tidak sesuai dengan moralitas Kristiani.
Di awal abad 18, rangsangan institusional untuk membicarakan seksualitas secara teknis, politik dan ekonomi muncul. Persoalan yang muncul dari sisi ini adalah menyangkut bagaimana menjaga populasi tetap sehat, produktif dan stabil. Foucault menyebut ini sebagai bio-power . Bio-power adalah tekhnologi yang dikembangkan seiring dengan atau produk dari ilmu-ilmu manusia. Tekhnologi ini digunakan untuk menganalisis, mengendalikan, menata, dan mendefinisikan tubuh dan perilaku manusia. Logika Bio-Power adalah logika panoptikon : “pengawasan diskontinyu dengan kesadaran kontinyu”.
Kemunculan berbagai wacana pada abad ke-18 seputar isu teknis, ekonomi dan politik membuktikan tiga hal.
- Seks bukan lagi sebuah misteri pribadional (baca: personal) melainkan menjadi persoalan publik dan bisa dikenali wajahnya oleh masyarakat secara sangat terbuka.
- Seks bukan lagi isu moral melainkan menjadi persoalan yang administratif. Seks di abad 18 menjadi isu pengawasan dan pengaturan guna memaksimalkan secara teratur sumber sumber daya individual dan kolektif.
- Kita sekarang bukan lagi berurusan dengan satu wacana tentang seks (baca: wacana Gereja seputar “daging” dan dosa) melainkan multi wacana. Homogenitas wacana tentang seks telah pecah menyebar menjadi berbagai wacana yang mengambil berbagai bentuk seperti demografi, biologi, medis, psiatri, psikologi, etika, paedagogi, dan politik.
Menurut Foucault, pengakuan menyingkap sebuah relasi kuasa. Seseorang tidak mengaku tanpa kehadiran orang lain (kongkret atau maya). Orang lain itu menjelmakan diri menjadi otoritas yang menuntut pengakuan, menetapkan, mengapresiasi, menghakimi, menghukum, memaafkan, dan menentramkan. Pengakuan adalah ritus ketika deklarasi batin menghasilkan perubahan dalam diri sang pengaku, dan dengan demikian ia merasa terbebasakan dari kesalahannya dan terselamatkan.
Masyarakat Barat telah melengkapi dirinya dengan sebuah scientia-sexualis dengan fokus memperoduksi kebenaran di seputar seks. Demi menunaikan tugas tersebut, masyarakat mengadopsi prosedur tradisional pengakuan dosa ke dalam wacana sains. Modernisme pada kenyataannya sebagaimana pengakuan Foucault tidak meninggalkan “kebenaran” seputar seks melainkan mengawetkannya. Hanya dalam kehidupan modern, seks beralih situsnya ke wilayah-wilayah baru seperti paedagogi, relasi keluarga dan psikiatri.
Foucault menolak gagasan tentang mekanisme utama, menyeluruh, universal dan seragam dalam berurusan dengan seks. Kita tidak lagi berhadapan dengan mekanisme kuasa terhadap seks, seperti pada abad ke-18. Pluralitas mekanisme kuasa terhadap seks menyiratkan bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah sebuah produksi seksualitas. Seks bukan sesuatu yang alamiah dan merangsang kuasa untuk menelikungnya melainkan sebuah konstruksi historis. Makna seks selalu harus ditafsirkan dalam konsep strategi, disiplin, dan institusi pada periode historis tertentu.
Epilog
Wacana kuasa dan seksualitas sebagaimana yang ditaburkan oleh Foucault dengan menggunakan analisa kritisnya memberikan pemahaman yang jelas kepada kita, bahwa Foucault lebih bergairah untuk terlibat dalam satuan-satuan lokal dan mikroskopis. Kritisisme Foucault merupakan analisa interpretatif terhadap situasi lokal dan praktik (masih dibaca: tek) sosial tertentu, tanpa berperetensi untuk melakukan generalisasi, apalagi menemukan hukum sejarah.
Dengan kritisismenya, sebenarnya, Foucault bermaksud menyingkapkan dan menjungkirbalikan karakteristik dan asumsi-asumsi dunia modern sebagai produk Pencerahan. Dalam pandangan Pencerahan, manusia dipandang sebagai subyek yang otonom, mandiri dan mampu menentukan diri sendiri. Mereka juga percaya adanya pemilahan yang tegas antara pengetahuan sejati dan murni (rasional, objektif, dan tidak terdistorsi oleh mitos atau hubungan kekuasaan yang menindas) dengan pengetahuan palsu dan tidak murni (irasional, subjektif dan ideologis/cerminan dari kekuasaan tertentu.
Pandangan demikian, jelas ditolak mentah-mentah oleh Foucault. Dalam salah satu bukunya, Foucault secara meyakinkan menyatakan bahwa individu modern, sebagai subjek maupun objek, sebenarnya lahir dan diciptakan oleh multiplisitas dalam jaringan kuasa. Lewat tehnik disiplin dan normalisasi, individu duciptakan sebagai objek. Dan melalui praktek “pengakuan” dan “penguasaan-diri” dalam wacana seksualitas, ia diciptakan sebagai subjek yang membicarakan dirinya sendiri. Lain dari itu, Foucault juga menegaskan bahwa distingsi antara pengetahuan murni (yang bebas kekuasaan) dan pengetahuan ideologis (yang bias kekuasaan) hanyalah ilusi belaka. Sebab menurut Foucault, pengetahuan dan kekuasaan terpilin dalam satu kesatuan tunggal.??Wallahu a’lam bi-Shawab
DAFTAR BACAAN PRIMER
Haryatmoko, Kekuasaan Melahirkan Anti Kekuasaan: Menelanjangi Mekanisme dan Teknik Kekuasaan Bersama Foucault, Majalah BASIS No. 01-02, Tahun ke-51 Januari-Pebruari 2002.
Karlina Leksono, Berakhirnya Manusia dan Kebangkrutan Ilmi-ilmu, Majalah BASIS No. 01-02, Tahun ke-51 Januari-Pebruari 2002.
Konrad Kebung, Kembalinya Moral Melalui Seks, Majalah BASIS No. 01-02, Tahun ke-51 Januari-Pebruari 2002.
Donny Gahral Adian, Foucault dan Wacana, Majalah BASIS No. 01-02, Tahun ke-51 Januari-Pebruari 2002.
I. Bambang Sugiharto, Foucault dan Postmodernisme, Majalah BASIS No. 01-02, Tahun ke-51 Januari-Pebruari 2002.
DAFTAR BACAAN SEKUNDER
Michel Foucault, History of Sexuality, The Will of Knowledge (London: Penguin Books, 1990).
——————-, Madnes and Civilization, (London: Tavistock, 1967).
——————-, The Order of Thing, (London: Tavistock, 1970).
——————-, The Archeology of Knowledge, (London: Tavistock, 1972.
——————-, Power/Knowledge, selected Interviews and Other writings 1972-1977, ed C. Gordon, (Brighton: Harvester Press, 1980).
——————-, Discipline and Punis, (London: Penguin, 1977).
