Radea Own


Let your work be a struggle. Let your peace be a victory (F. Nietzsche)

06 Aug, 2008

“Menghampiri” Nama-nama Nabi

Posted by: admin In: Agama

Dari sudut pandang spiritual, mengenali hikmah dari setiap peristiwa keagamaan memiliki makna yang sangat penting. Lantas, hikmah apakah yang bisa kita kenali dari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW yang sering kita peringati dari tahun ke tahun? Sebab, kita khawatir bahwa peristiwa peringatan kelahiran nabi kita itu hanya sekedar formalitas semata dan tidak mampu mengantarkan kita untuk memperteguh keyakinan, bahwa Rasulullah adalah sosok par excelence yang patut untuk digugu dan ditiru.

Muhammad sebagai nabi dan rasul sering kita seru dengan khusu’ dalam shalawatan dan kita puji keberhasilannya dalam membina, memimpin dan mengarahkan kesadaran umat manusia. Tapi shalawatan dan pujian yang kerap kita lantunkan itu digelayuti keraguan, jangan-jangan ia hanya sampai ditenggorokan saja yang hanya bisa menggetarkan sesaat. Selanjutnya, kita abai dan tidak mampu menjadikannya sebagai spirit yang menggerakkan dan menuntun kita untuk benar-benar ber-uswah pada seluruh jejak kehidupannya.

Uswah hasanah

Kitab suci al-Qur’an melalui surat al-Ahzab ayat 21 memberikan informasi kepada kita bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh terbaik (uswah hasanah) yang pantas untuk diteladani oleh segenap kaum muslimin. Sejatinya, sebagaimana menurut Hussein Nasr (2002), usaha meneladani rasul merupakan kunci rahasia untuk membuka pintu menuju kehadiran Ilahi. Karena itu ia merupakan bagian yang sangat penting dari spiritualitas Islam.

Tak bisa disangkal, perkataan dan tingkah laku Nabi menjadi jaminan dan gambaran nyata tentang ketinggian akhlak yang tak bisa ditampik oleh siapapun –kawan maupun lawan. Anas bin Malik, melukiskan akhlak Rasulullah ini dengan menyatakan bahwa “sepuluh tahun aku bekerja padanya, tapi tidak sekalipun beliau berkata ‘cis’ kepadaku”.

Rasulullah dikenal sebagai sosok manusia yang sederhana. Quraisy Shibab (2007) menggambarkan kesederhanaan rasul ini dengan menyatakan bahwa “beliau tinggal di sebuah pondok kecil beratap jerami. Kamar-kamarnya disekat dengan batang pohon palem dan direkat dengan lumpur. Beliau sendiri yang menyalakan api, memeras susu, dan menjahit pakaiannya yang robek”.

Rasulullah adalah juga sosok manusia yang santun, memiliki kecintaan dan rasa penghormatan yang tinggi kepada sesama manusia. Dia tidak pernah memukul siapapun. Makiannya yang paling buruk adalah, “apa yang terjadi padanya? Semoga dahinya berlumuran lumpur.” Ketika ada yang memintanya mengutuk seseorang, beliau menjawab, “aku diutus bukan untuk mengutuk, tetapi untuk mengajar.” Kemenangan pasukannya tidak membuatnya angkuh. Beliau memasuki kota Mekah –yang penduduknya pernah mengusirnya—dengan menundukkan kepala sambil memanggil nama bekas orang yang memusuhinya dengan “saudara yang mulia.”

Nama-nama Nabi

Dengan pencapaian akhlaknya yang demikian tinggi, nabi memiliki banyak nama dan gelar yang sering dialamatkan kepadanya. Dia bukan hanya dipanggil Muhammad, yang paling dipuji, melainkan juga Ahmad, yang paling berharga diantara mereka yang memuji Allah. Dia juga adalah Wahid, manusia yang unik; Mahi, penghilang kegelapan dan kebodohan; dan ‘Aqib, yang terakhir diantara para nabi. Dia juga Thahir, manusia yang suci dan bersih; Thayib, orang yang memiliki ketampanan dan keharuman; dan Sayyid, pangeran dan penguasa alam raya. Dia, tentu saja adalah Rasul al-Rahmah, utusan pembawa belas kasih, dan Khatim al-Rasul, utusan Tuhan penghabisan.

Nabi Muhammad juga adalah Muhyi, yang menghidupkan hati manusia yang mati, dan Munji, yang membebaskan manusia dari kesalahan dan dosa. Dia juga adalah Nur, cahaya yang menerangi hati, dan Siraj, obor yang menyinari jalan dalam kehidupan manusia; Mishbah, lampu yang mengandung cahaya iman, dan Huda, pembimbing kepada Allah dan surga. Dia adalah Dzu quwwah, pemilik kekuatan; Dzu hurmah, pemilik kehormatan suci; dan Dzu makanah, pemilik integritas. Dia sekaligus Amin, dapat dipercaya, dan Shadiq, jujur. Dia adalah Miftah, kunci menuju surga, dan Miftah al-Rahmah, kunci menuju rahmat Allah.

Dengan seluruh pemilikan nama-nama dan akhlak terbaik yang dialamatkan kepada Nabi di atas, sangatlah beralasan jika dalam tradisi Islam, Muhammad SAW ditahbis sebagai satu-satunya sosok yang diberi missio canonica (hak resmi) oleh Allah SWT untuk memberikan pertolongan (syafa’at) pada umatnya di hari pengadilan kelak. Syafaat Muhammad adalah harapan yang sanggup memberikan keyakinan seperti yang tersurat dalam do’a yang dipanjatkan Ibnu Khaldun (w. 1406): “Syafaati aku seperti yang aku harap-harapkan. Dengan ampunan yang indah bagi dosa-dosaku yang buruk”. Atau, seperti yang terdengar dalam munajat seorang mistikus Afifuddin al-Tilimsani (W. 1289): “Banyak sekali dosaku, tetapi barangkali syafaatmu akan menyelamatkanku dari nyala api”.

Sesungguhnya, sebagaimana dikatakan Hussein Nasr (2002), nama-nama nabi seperti yang diurai di atas adalah warna-warna yang dengannya potret spiritual nabi dimungkinkan untuk diukir di dalam hati dan jiwa kaum muslimin. Nama-nama itu juga adalah jalan yang bisa memudahkan usaha untuk mengikuti sunnah-nya dan membukakan saluran barakah yang benar-benar akan dialami bila sunnah-nya dijalankan dan ditiru dalam kehidupan.

Mengikuti sunnah berarti mengikuti cara-cara yang pernah dicontohkan oleh nabi: perkataan (qauly), tindakan (fi’li) dan pengakuan (taqrir). Cakupannya adalah seluruh aspek kehidupan manusia, dari mulai beribadah, menangani urusan keluarga, masyarakat, melakukan transaksi ekonomi, usaha melindungi hak-hak rakyat kecil, berbuat baik kepada sesama makhluk, sampai pada cara mengelola sebuah pemerintahan.

Ketika seorang muslim menyapa saudaranya dengan ucapan “as-salamu ‘alikum” dan menebarkan spirit penghormatan, kedamaian dan keselamatan bagi siapapun, dia telah benar-benar mengikuti sunnah nabi. Ketika seseorang berusaha untuk memperlakukan seorang anak yatim dengan baik dan melindungi seluruh hak-hak hidupnya, dia pun telah mengikuti sunnah nabi. Ketika seorang hakim telah menegakan hukum seadil-adilnya, sungguh dia telah berada di jalan yang benar dalam mengikuti sunnah nabi.

Ketika seseorang pemimpin telah dengan sungguh-sungguh melindungi rakyatnya dan menunaikan janji-janjinya, dia pasti telah mengikuti sunnah nabi. Dan ketika seorang pemimpin lebih mengutamakan kepentingan masyarakat banyak ketimbang kepentingan pribadi ataupun kelompok, dia telah benar-benar mengikuti sunnah dan meneladani segi-segi kehidupan rasulullah dalam memimpin umatnya.

Kiranya, usaha kita untuk mengenali hikmah pada peringatan kelahiran (maulid) Nabi kali ini adalah kesediaan kita untuk “menghampiri” lebih dekat dengan cara meneladani nama-nama yang disandang oleh Muhammad SAW dan menjadikannya bagian dari diri kita sehingga ia menjadi medan kesadaran dan dinamo spiritual yang membantu menggerakkan dan menuntun kita untuk bertutur dan bertindak secara lebih baik. Dengan ini pula, mudah-mudahan kita sudah benar-benar ber-shalawat, sebagaimana titah al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian atas nabi dan sampaikanlah salam penghormatan kepadanya”***Wallahu a’lam bi-Shawab

No Responses to "“Menghampiri” Nama-nama Nabi"

Comment Form

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah kumpulan catatan sewaktu. Mungkin tidak terbaca, apalagi terpahami, utuh. Tapi, ia pada dirinya cukuplah sekadar bisa menampung apa yang mungkin terangkum dari angan, imaji, atau nalar yang tidak selamanya tenang dan hati-hati.


ShoutMix chat widget