Radea Own


Let your work be a struggle. Let your peace be a victory (F. Nietzsche)

06 Aug, 2008

Dimensi Sosial Ibadah Qurban

Posted by: admin In: Agama

Dimuat di HU Kompas, 30 Desember 2006

Mengenali hikmah dari setiap bentuk ibadah keagamaan sangatlah penting. Kepentingannya itu terletak pada dua hal utama, di satu sisi untuk menambah keyakinan bagi pelakunya bahwa ibadah yang dilaksanakan itu memiliki dampak positif bagi dirinya, dan pada sisi yang lain supaya ibadah tersebut tidak merosot menjadi sekedar rutinitas dan formalitas lahiriah belaka, tanpa makna.

Mengenali hikmah ibadah keagamaan sebagaimana menurut Nurcholish Madjid (1992:61) adalah menemukan “pengalaman keruhanian sebagai inti rasa keagamaan atau religiusitas”, yang dalam pandangan mistis seperti yang diyakini kaum sufi misalnya, memiliki tingkat keabsahan yang paling tinggi. Bahkan kaum sufi cenderung melihat rasa keagamaan itu harus selalu berdimensi esoteris (batiniah), dengan penegasan bahwa setiap tingkah laku eksoteris (lahiriah) itu bernilai hanya jika ia mengantarkan seseorang pada wilayah pengalaman esoteris.

Dalam keyakinan kaum muslimin, semua ritual ibadah keagamaan mengandung dua hikmah utama, yaitu peneguhan iman dan amal soleh (memiliki nilai kemanusiaan). Dua segi ini dikenal dengan berbagai istilah lain, seperti “tali hubungan dengan Allah” (habl-un min al-Lah) dan “tali hubungan dengan sesama manusia” (habl-un min al-nas). Keduanya diyakini sebagai dua dimensi hidup yang benar, yaitu hubungan vertikal yang baik dengan Sang Maha Pencipta (khaliq) dan hubungan horizontal yang baik dengan sesama ciptaan (makhluq).

Simbol kepasrahan dan kepatuhan

Dalam kerangka ajaran Islam, ibadah qurban adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki simbol spiritualitas yang mencerminkan sikap kepasrahan (submission) dan kepatuhan (obedience) seorang muslim kepada Tuhannya. Menurut sejarah Islam, sikap pasrah dan patuh itu ditampilkan oleh sosok Ibrahim dan Ismail. Ibrahim meyakini dirinya sebagai telah menerima mandat dari Tuhan (melalui mimpi) untuk mengorbankan dengan menyembelih Ismail. Menanggapi perintah Tuhan ini, Ismail serta merta mengamini dengan bersedia menjadikan dirinya untuk dikorbankan. Bahkan dengan lantang Ismail berkata, “engkau akan segera mendapatiku sebagai orang yang sabar”.

Ritual qurban yang disimbolisasikan dengan penyembelihan hewan merupakan ibadah yang tidak hanya memiliki dimensi spiritual-individual, yaitu kepatuhan atas perintah Tuhan, tapi juga memiliki dimensi sosial yang tinggi. Pada tarap spiritual-individual, penyembelihan hewan merupakan simbol dan isyarat perlunya seorang muslim melakukan “penyembelihan” terhadap sejumlah hal yang bisa mengotori dan menghalangi hubungan manusia dengan Tuhannya.

Ilustrasi yang menarik tentang simbol “penyembelihan” ini dilukiskan oleh Ali Syariati (1997:101), bahwa yang harus “disembelih” itu adalah “setiap sesuatu yang yang melemahkan imanmu, setiap sesuatu yang menghalangi ‘perjalananmu’, setiap sesuatu yang membuat engkau memikirkan kepentinganmu sendiri, setiap sesuatu yang membuat engkau tidak dapat mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran, setiap sesuatu yang memaksa engkau untuk ‘melarikan diri’ dan setiap sesuatu yang membutakan matamu dan menulikan telingamu”.

Sedangkan dimensi sosial dari ibadah qurban yang paling penting dan bernilai adalah memelihara ikatan solidaritas. Hewan yang diqurbankan tidak bisa dinikmati sepenuhnya oleh mereka yang berqurban, tetapi juga dibagikan kepada sesama. Dalam kerangka Islam, inilah yang disebut dengan akhlak sosial, sebuah tindakan yang didasarkan pada prinsip ihsan (berbuat baik) yang menegaskan kesadaran bahwa manusia yang satu dengan manusia lainnya diikat oleh semangat persaudaraan (ukhuwah).

Pendistribusian hewan qurban juga adalah isyarat bahwa ruang publik adalah tempat dimana agathon (kebaikan) dan pelayanan kepada sesama harus senantiasa menjadi prinsip penting yang perlu diupayakan secara terus menerus. Pelayanan kepada sesama adalah bentuk lain dari komunikasi atau persentuhan sosial yang dalam kehidupan kita sekarang ini tampak memudar. Kegagalan membangun komunikasi dalam masyarakat terbukti sering menjadi pusaran bagi munculnya konflik dan sumber perusak bangunan persaudaraan.

Stigma sebagai penghambat komunikasi

Salah satu sebab yang menghambat tidak berjalannya komunikasi atau persentuhan sosial menurut Budi Hardiman (2005:11) adalah adanya “stigma”. Stigma berarti kita mengenal orang lain pertama-tama sebagai anggota sebuah kelompok, sebagai muslim, orang Kristen, keturunan Cina, dan bukan sebagai individu. Stigma menghambat perkembangan partner komunikasi sebagai individu, karena rasa takut untuk bersentuhan diawetkan dan diperbesar. “Yang lain” (the others) dieksklusi dari “kita” dan dilemparkan kedalam “mereka”.

Menurut Erving Goffman, “seorang pribadi dengan stigma tidak sepenuhnya manusiawi”. Kita mayoritas atau kita orang normal pantas untuk disukai, sedangkan mereka yang distigma menjijikan dan pantas untuk dibenci. Dunia kita adalah dunia yang baik., sementara dunia mereka adalah dunia yang jahat. Yang terstigma, bukanlah orang normal “seperti kita”. Mereka memang ada diantara kita, tetapi “mereka” bukan “kita” dan tak pernah menjadi “kita”.

Ibadah qurban dilihat dari dimensi sosial ternyata adalah bentuk komunikasi far excellence. Ia merupakan dasar dari prinsip tentang “kita”, dimana individu memperoleh kepenuhan pemahamannya hanya jika ditakar dan karena adanya komunikasi dengan individu lainnya. Semakin penting tempat individu dalam sebuah masyarakat, akan semakin kosmopolitanlah masyarakat tersebut, sebab dalam individualitas individu kita bisa mengenali bahwa semua manusia itu sama.

Di titik ini tampaklah sebuah pemahaman, bahwa ternyata agama tidak sekedar institusi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan an sich, tapi juga memiliki peran besar dalam menata kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Sebab sebagaimana dikatakan oleh Hans Kung, agama bukanlah suatu hypostase yang berada di langit Plato yang hanya mengantarai manusia dan Tuhan, tapi agama selalu menjadi agama manusia biasa, dengan daging dan darah. Pergolakan manusia juga adalah pergolakan agama. Boleh jadi, tindakan beragama atau beribadah yang benar itu bukan hanya menekankan tentang kepatuhan dan cinta kepada Tuhan, tapi juga mengharuskan cinta dan bersedia melayani sesama manusia. Maka benarlah apa yang diyakini oleh Bunda Theresa ketika ia menyatakan bahwa, “prayer in action is love, and love in action is service”.*** Walahu a’lam bi-Shawab

No Responses to "Dimensi Sosial Ibadah Qurban"

Comment Form

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah kumpulan catatan sewaktu. Mungkin tidak terbaca, apalagi terpahami, utuh. Tapi, ia pada dirinya cukuplah sekadar bisa menampung apa yang mungkin terangkum dari angan, imaji, atau nalar yang tidak selamanya tenang dan hati-hati.


ShoutMix chat widget