(Dialektika Pendekar Mitos dan Logos dalam Filsafat)?
Pendahuluan
Syahdan dikisahkan oleh penyair Hoseidos dalam hikayat penciptaan para dewa, pada awalnya yang ada di alam semesta ini hanyalah Khaos, kekacaubalauan, kekosongan tanpa bentuk apapun. Dari Khaos inilah muncullah Gaia (bumi). Disampingnya tampil daya pembentuk yang bernama Eros, yakni cinta kasih yang meliputi seluruh alam. Dari dirinya sendiri Gaia melahirkan Uranos (langit) dan Pontos (lautan). Kemudian Gaia memadu kasih dengan kedua dewa itu (Uranos dan Pontos) atas dorongan Eros. Dari Pontos, ia melahirkan raksasa-raksasa Kyklop yang bermata bundar satu di dahi, yaitu para pencipta kilat, dan para Titan, dua belas putra dan putri perkasa, yang kemudian melahirkan generasi-generasi dewa dan dewi. Yang terbesar diantara para Titan adalah: Okeanos, cikal bakal perairan dunia yang meliputi seluruh bumi, dan istrinya Thetys, kelembaban yang menumbuhkan, keduanya nenek moyang semua sumber air dan sungai; Hyperion dan Theia dua bentuk cahaya yang menghasilkan matahari, bulan dan fajar; Themis, hukum alam, keadilan, dan Mnemosyne, daya ingat, kekuasaan dewata yang akan mengganti Uranos dan Gaia dalam menguasai dunia.
Munculnya filsafat di Yunani, sering disebut orang sebagai The Greek Miracle (keajaiban Yunani). Disebut sebagai keajaiban, karena sulitnya ditemukan alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan yang bisa menerangkan dan menjawab pertanyaan kenapa filsafat lahirnya di Yunani. Namun demikian, tumbuh suburnya cerita-cerita mitos di tengah-tengah masyarakat Yunani bisa dianggap sebagai hal yang mempermudah lahirnya filsafat. Secara demikian, unsur mitologi dapat dipandang menjadi faktor pemicu dan yang memudahkan bagi lahirnya filsafat seperti yang kita kenal sekarang.
Pun dapat kita katakan, bahwa mitologi adalah semacam pasukan perintis yang tugasnya adalah memudahkan dan memberikan jalan yang lapang bagi sang protagonis, yakni filsafat untuk melakukan tugas-tugasnya. Secara demikian, dapatlah kita mengerti bahwa mitologi pada hakikatnya merupakan usaha yang sangat dini yang dilakukan oleh masyarakat Yunani untuk mencoba mengetahui dan mengerti peristiwa-peristiwa yang terjadi. Dari potongan cerita mitologi yang sengaja penulis sertakan di atas kiranya bisa memberikan gambaran tentang terjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan dan menggelembung di batok kepala manusia Yunani waktu itu. Dari mana dunia kita ini berawal? Bagaimana asal mulanya kejadian-kejadian yang berlangsung di alam ini?
Menurut para ahli, konon pada abad ke-6 muncullah suatu cara pandang yang sama sekali berlainan, dimana logos mencoba untuk mengambil peran yang dulu begitu dominan dimainkan oleh mitos dalam masyarakat Yunani. Pada kenyataannya, sebagai “penemuan” orang Yunani, filsafat muncul tidak dalam kepenuhannya sebagai Logos. Para filsuf pra-Sokratik, seperti Thales, Xenophanes, Herakleitos, dan Parmenides, adalah genius-genius yang memperkenalkan cara berfikir baru yang kritis terhadap mitos. Namun mereka tidak pernah secara seratus persen meninggalkan mitos (sumpah dech!!). Parmenides, misalnya, yang termashur sebagai perintis metafisika, yang pemikirannya dikemudian hari dikembangkan oleh filsuf-filsuf agung seperti Sokrates dan Plato. Filsuf ini berfilsafat dengan sebuah puisi bernafaskan agama misteri yang disebut Orphisme, menceritakan bagaimana dengan keretanya dia bertolak dari kegelapan malam ke terang siang dan menerima wahyu dari seorang dewi yang mengajarkan sesuatu yang lalu menjadi tradisi Parmenidean, bahwa “yang Ada itu ada, yang Tidak Ada tak mungkin ada”. Yang lebih menarik adalah bahwa, kemungkinan besar perjalanan dari gelap ke terang itu adalah sebuah narasi tentang kemenangan filsafatnya atas filsafat madzhab Phytagorean sebagai antagonisnya.
Tak dapat dipungkiri, perjalanan filsafat sejak Yunani Kuno memiliki sebuah plot narasi yang kurang lebih jelas, yakni sebuah cerita mengenai sebuah pertarungan diantara dua pahlawan peradaban. Protagonisnya adalah rasio atau apa yang sejak zaman klasik disebut Logos , sedang antagonisnya adalah Mitos. Narasi filosofis ingin menutup halaman terakhirnya dengan kematian sang antagonis dan kemenangan sang protagonis. Yang menarik dalam sejarah filsafat adalah bahwa antagonis itu hidup lagi, atau sekurang-kurangnya mengalami metamorfosis, dan sang protagonis harus muncul lagi dengan segala kemudaan dan kesegarannya untuk memenangkan lagi pertarungan itu.
Dalam pemikiran Barat modern, pertarungan dua pendekar peradaban itu berlangsung tanpa akhir dan semakin menghebat. Dua-duanya, baik Logos sebagai protagonisnya dan Mitos sebagai pendekar antagonis sama-sama mengalami metamorposis. Perkembangan segi-segi material dan empiris kebudayaan modern telah menempatkan cara-cara pendekatan ala ilmu-ilmu alam (sains) pada kedudukan protagonis, sebagai Logos, sedangkan cara-cara pendekatan lain yang ber-locus pada ranah spekulasi metafisis-teologis tanpa basis empiris merupakan antagonisnya, Mitos.
Kalau kita mencermati dan sedikit mau menelisik tentang dua pendekar peradaban ini, baik Logos ataupun Mitos keduanya adalah momen-momen dalam pengetahuan manusia mengenai kenyataan yang sama-sama berusaha menyusun skema kenyataan agar dapat dimengerti secara teratur dan sistemik. Mitos dan Logos pada hakikatnya merupakan dua saudara kandung yang sebenarnya memiliki musuh bersama yang sangat misterius dan menakutkan, yaitu Khaos atau kekacaubalauan. Secara demikian, pola-pola pemahaman baik yang menggunakan Mitos maupun Logos pada kenyataannya merupakan upaya dari kenyataan hakiki manusia untuk tidak bisa bertahan hidup dalam sebuah dunia yang tidak mampu memberikan jawaban atas mengapa-nya kehidupan dan realitas. Pendekar Mitos adalah kakak kandung Pendekar Logos yang menyelamatkan manusia dari Khaos. Harus diakui, pendekar Logos yang tampil kemudian memang lebih maju, keberadaanya lebih meyakinkan, penampilannya lebih serius dan menawarkan sebuah kosmos yang lebih leluasa untuk didiami dan akibat positif dari sepak terjangnya telah menimbulkan tilikan yang dapat lebih dimengerti dan diterima.
Pendekar Mitos dalam tradisi pemikiran Yunani adalah masa ketika kesadaran Sang Pendekar diarahkan untuk memahami, menjelaskan dan menelisik misteri yang melingkupi kehidupannya. Sebagai pendekar yang tugasnya memang memberikan jalan yang lebih lapang bagi saudara kandungnya (Logos), upaya-upaya yang dilakukan olehnya masih menggunakan kerangka magis dan mitis yang memang waktu itu menjadi mode yang sedang digemari. Berdasarkan pandangan dunia ini, Pendekar Mitos percaya bahwa dimana saja dalam alam ini akan terlihat ulah para dewa, pengaruh suratan nasib dan daya-daya siluman. Tiada rasionalitas dan keterikatan menurut hukum-hukum yang dapat dijelaskan secara logis dan rasional –-jika ukuran rasional dilihat dari penggunaan cara berfikir yang ketat dan keras.
Pandangan-pandangan yang penuh khayal sebagai sesuatu yang lebih disukai oleh Pendekar Mitos dalam upayanya untuk melawan si jahat Khaos (kekacaubalauan) serta merta berubah manakala saudara kandungnya Pendekar Logos lahir. Pada Pendekar Logos tumbuh sebuah kesadaran baru bahwa fenomena kemisteriusan ataupun kekacaubalauan kosmos harus dijelaskan beradasarkan satu prinsip dasar (arkhe). Thales mengira bahwa ia dapat menjelaskan hampir segala kejadian dan perubahan berdasarkan prinsip dasar “air”. Anaximenes malah lebih tergoda dan menyukai prinsip “udara”, sedangkan Anaximandros menganggap kedua prinsip tersebut terlalu kongkrit untuk dijadikan asal-usul segala sesuatu. Ia lebih bergairah dan memilih prinsip dasarnya terhadap “segala sesuatu yang tak terbatas” (to apeiron) dan dengan inilah ia merintis jalan bagi munculnya pandangan tentang materi pertama (hyle prote) yang dikemukakan kemudian oleh Aristoteles.
Melihat kenyataan di atas, jika kita analisa berdasarkan sudut pandang fenomenologis, upaya-upaya yang dilakukan oleh Pendekar Logos adalah berusaha untuk melakukan adaptasi diri dengan alam lahiriahnya lebih secara naluriah daripada rasional (?). Antara lingkungan lahiriah dan lingkungan batiniahnya tak terdapat jarak yang tegas. Alam lahiriah terpantul dalam alam batiniah dan begitupun sebaliknya, sehingga melalui kenyataan ini kita bisa berbicara tentang harmoni antara mikro dan makrokosmos.
Munculnya kesadaran dari sang Pendekar bahwa Khaos bisa dijelaskan dengan arkhe. Dan bahwa arkhe itu berasal dari sesuatu yang berasal dari unsur-unsur yang terdapat dalam kosmos, maka masa ini sering disebut sebagai masa kosmosentris. Jawaban-jawaban tentang arkhe (unsur dasar) melalui air, udara dan segala sesuatu yang tak terbatas menggambarkan bahwa para filsuf kosmosentris memiliki ikatan batin yang cukup dekat dengan segala fenomena yang terjadi di alam.
Pola-pola seperti ini, sebenarnya dapat dijelaskan bahwa mereka menyadari lingkungan tanpa membuat pemisahan antara subjek dan objek pengetahuan. Pemahaman mengenai alam luar (makro-kosmos) tercampur dengan pemahaman mengenai alam dalam (mikro-kosmos) dan sebaliknya, sehingga alam luar itu berfikir, merasa dan berkehendak sebagaimana alam dalam. Dalam arti ini, alam luar dan alam dalam saling berpenetrasi; subjek berpartisipasi dalam objek. Lalu, karena kesadaran bersesuaian dengan dengan alam luar, ritme alamiah, seperti musim-musim, datangnya siang dan malam, atau pasang surutnya laut yang kembali secara teratur, membuat mereka menghayati waktu sebagai suatu daur yang berulang lagi dan lagi.
Namun demikian, sekalipun ada keterjalinan yang harmonis antara alam luar dan alam dalam tampak dengan jelas bahwa para filsuf kosmosentris menitik beratkan upaya pencarian arkhe (dasar) dari segala sesuatu itu kepada sesuatu yang berasal dari kosmos. Dengan kata lain pula filsuf-filsuf pertama bersifat ekstraversi.
Perkenalan kita dengan para filsuf kosmosentris boleh jadi akan mengecewakan, karena kita belum menjumpai suatu pandangan dan sistim pemikiran yang jelas dan tegas. Namun demikian, yang penting ialah bahwa apa yang dikemukakan baik oleh Thales, Anaximenes maupun oleh Anaximandros bisa dipandang sebagai sebuah percobaan awal (trial and error) untuk mencoba mengerti dan memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta dengan menggunakan rasio dan penelaran yang lebih tertib. Berdasarkan penggunaan rasio itu pula, muncul pandangan bahwa alam semesta secara fundamental dapat dijelaskan dengan menyertakan satu unsur dasar (arkhe) sebagai penopangnya.
Epilog
Pada permulaannya, Uranos-lah yang merupakan mahadewa. Karena para Kyklop, ciptaannya sendiri, menjadi terlalu berkuasa, maka mereka ia lemparkan ke dalam Tartaros (alam yang tergelap dan terjauh). Namun Gaia menuntut para Titan agar mereka membebaskan saudara-saudara mereka yang dihukum itu. Hanya si bungsu Kronos yang melaksanakan perintah itu. Bumi menumbuhkan besi di kedalamannya, maka ditempalah besi itu oleh Kronos menjadi sabit. Dengan senjata inilah ia melumpuhkan kekuasaan ayahnya. Dari darah Uranos bermunculanlah Erinye, dewi-dewi balas dendam dan juga para Gigant, yaitu raksasa bersenjata yang mirip generasi Titan. Karena kejahatan inilah Kronos menjadi raja atas seluruh khazanah ciptaan di dunia. Wallahu a’lam bi-Shawab.
DAFTAR PUSTAKA
“Sagala rupi tulisan (mangrupi: buku, majalah, artikel koran, diktat jeung sajabina) anu aya pakuat-kaitna sareng filsafat”