Radea Own


Let your work be a struggle. Let your peace be a victory (F. Nietzsche)

08 Aug, 2008

Theorie In Praktischer Absicht

Posted by: admin In: Sosial

(Melacak asal-usul Teori Kritis)

Pendahuluan

Siapa mengeluh tentang penderitaan? Kau dan aku? Kitalah pemakan daging manusia, yang sambat dagingnya tidak lejat dan membikin perut kita mulas tidak puas. Tidak, tidak, malah lebih jahanam lagi; kau bergelimang dalam ketentraman dan kelimpahan, dan ini harus dibayar oleh sesama yang mati lemas, berdarah serta keroncongan perutnya, sementara itu kita hanya merenung tentang nasib yang menimpa orang-orang seperti Katharina Krammer. Kau berguling di kasur empuk, kau berbusana indah. Namun kau tidak tahu berapa banyak buruh wanita jatuh dalam proses produksi buat kasur dan busanamu. Sesama kita hangus karena gas racun sehingga bapakmu dapat mengeruk uang untuk mengongkosi tirahmu. Dan kau sendiri berang-berang marah jika kau tidak bisa santai dengan Dostojewski dua halaman sehari. Kitalah si buas, namun kita kurang disiksa. Kita memang konyol. Kita bagaikan tukang bantai

11 Juli 1916. Ini memang tanggal, bulan dan tahun yang sulit bagi Horkheimer. Dia gundah. Jengkel dan marah terhadap situasi hidup yang ditemuinya. Carut marutnya perasaan yang saat itu bergolak di dadanya mendorong Horkheimer untuk berkirim surat kepada saudaranya, Hans. Isi suratnya seperti yang telah anda baca di muka melukiskan betapa kehidupan sehari-hari yang ditemui Horkheimer adalah kehidupan yang dilingkupi oleh kecurangan dan ketidakadilan. Di sana ada sementara orang yang berlimpah karena keuntungan dan kemelaratan, kemewahan dan kelaparan, kebahagiaan dan kesengsaraan.

Watak dasarnya yang suka protes terhadap situasi sosial yang dianggapnya tidak benar mengantarkannya untuk kemudian bergabung dalam Institut fur Sozialforschung dan pada bulan Januari tahun 1931 Horkheimer diangkat menjadi direktur utamanya. Dalam pidato pengukuhan dirinya, Horkheimer menyampaikan orasi yang diberi judul “The Present State of Social Philosophy and The Task of an Institute for Social Research”. Melalui orasinya ini, Horkheimer menegaskan bahwa garis konsepsinya tentang filsafat sosial adalah “interpetasi filosofis tentang nasib manusia sejauh manusia bukan dipandang sebagai individu, tetapi sebagai anggota masyarakat”. Apa yang ingin ditegaskan melalui pernyataannya ini adalah bahwa obyek filsafat sosial pada intinya “semua kelembagaan yang bersifat material dan spiritual dari kemanusiaan secara keseluruhan”.

Secara demikian, Horkheimer sebenarnya berusaha untuk menyerang sistim filsafat yang hanya puas dengan idea-idea belaka, sementara membiarkan individu di dunia ini kehilangan “makna filosofis” dari idea-idea tersebut. Manusia diandaikan memiliki kebebasan tapi dalam kenyataan sosial kebebasan itu terbelenggu dalam pelbagi bentuk seperti keterasingan, pengangguran dan paksaan. Menurut Horkheimer selanjutnya, filsafat jenis ini tak ubahnya kaki tangan atau antek dari bentuk penindasan kelas penguasa.

Metode analisa sekolah Frankfurt seperti ditegaskan oleh Horkheimer bukanlah vulgar hegelian yang menganggap dasar dan penggerak dunia atau sejarah itu adalah roh; bukan pula vulgar marxist yang menganggap kejiwaan manusia, kepribadian juga hukum, kesenian dan filsafat sebagai semata-mata cermin dari bidang ekonomi. Kilasan gagasan dasar Horkheimer pada kenyataannya memang manjadi inti bagi arah perjuangan yang hendak ditegakkan oleh sekolah Frankfurt. Penolakannya terhadap segala bentuk filsafat yang terlalu menekankan pada wilayah idea menempatkan sekolah Frankfurt sebagai basis bagi lahirnya Teori Kritis.

Teori kritis Sebagai Kesadaran Kritis

Apa yang ingin ditegaskan oleh perjuangan sekolah Frankfurt melalui Teori Kritisnya pada kenyataannya bermaksud menciptakan kesadaran yang kritis. Teori Kritik pada hakikatnya mau menjadi Aufklarung: bermaksud mencerahkan, menyingkap segala tabir yang menutup kenyataan yang tak manusiawi terhadap kesadaran kita. Dalam hubungan dengan ini, Teori Kritis berbicara tentang Verblendungszusammnchang, semacam selubung menyeluruh yang membutakan kita terhadap kenyataan yang sebenarnya, yang perlu disobek.

Teori itu disebut kritis bukan dalam arti sebuah teori yang asal mengkritik pelbagai ketidakberesan dalam masyarakat. “Kritis” pertama-tama berarti sadar akan pengandaian-pengandaian dan fungsi sosial-teori-teori, termasuk teorinya sendiri. Sebuah teori yang kritis merefleksikan, sebagaimana tertuang dalam rumusan Habermas, kaitan perkembangannya maupun kaitan penggunaannya. Teori Kritis bermaksud menyerang kesan otonomi dan obyektivitas yang melekat pada claim pendekatan teoritis. Ia adalah kritik terhadap status positif segenap teori. Ia adalah gerakan kritik dalam rangka teori, dalam proses pemikiran.

Kiranya dengan jelas bisa kita mengerti bahwa “kritik” adalah salah satu konsep yang bisa kita pakai untuk memahami Teori Kritik. Kata “Kritik” sendiri sebenarnya sudah dipakai sejak masa Renaissance (1350-1600). Dalam masa itu masyarakat Eropa membangkitkan kembali kebudayaan Yunani dan Romawi dan karena banyak inspirasi rasional ditimba darinya, kecenderungan-kecenderungan berpikir di dalam masa ini telah mulai mengusir kegelapan dogmatis Abad Pertengahan (600-1400) yang dikuasai cara berpikir gaya Gereja dimana faktor iman dan kepatuhan kepada otoritas gereja mendapat porsi yang besar. Dalam masa Renaissance ini para sarjana dan seniman menyibukkan diri dengan teks-teks sastra dari zaman Yunani-Romawi, termasuk Kitab Suci. Mereka mencoba memberikan penjelasan dan penilaian atas teks-teks itu. Sebagaimana lazim waktu itu, penjelasan itu juga diperuntukan dalam kerangka menyerang atau mempertahankan ajaran iman tertentu. Seni menilai dan menjelaskan teks-teks ini menjadi awal hermeneutika Kitab Suci dan akhirnya menjadi seni kritik yang lepas dari kegiatan pengetahuan yang dilarbelakangi iman. Lama kelamaan kritik sastra ini menjadi seni kritik yang melulu rasional.

Jika Teori Kritis mempergunakan konsep kritik, hal itu terlebih dihubungkan dengan konsep kritik yang diperkembangkan pada masa-masa setelah Renaissance, yaitu masa Aufklarung (Abad ke-17 dan 18) dan abad ke-19. Pada masa ini muncul filsuf-filsuf seperti Kant, Hegel, Marx yang oleh Mazhab Frankfurt dipandang sebagai filsuf-filsuf kritis. Jika Teori Kritis mempergunakan kata “kritik”, hal itu langsung dikaitkan dengan ke tiga filsuf ini.

Pengertian Kritik dalam Teori Kritis

Kritik dalam Arti Kantian. Menurut Teori Kritis, Immanuel Kant adalah salah seorang pemikir yang kritis karena mempertanyakan the condition of possibility dari pengetahuan manusia. Dengan ini, Kant bermaksud memperkarakan dan menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio untuk menunjukkan sampai sejauh mana klaim-klaim dari rasio dapat dianggap benar. Jalan yang ditempuh oleh Kant ini disebut dengan “kritisisme” . Dengan kritisismenya ini, Kant mau menunjukkan bahwa rasio dapat menjadi kritis terhadap kemampuannya sendiri dan dapat menjadi “pengadilan tertinggi” terhadap hasil-hasil refleksinya sendiri, yaitu ilmu pengetahuan dan metafisika. Kritik dalam pengertian Kantian lalu berarti kegiatan menguji sahih tidaknya klaim-klaim pengetahuan tanpa prsangka dan kegiatan ini dilakukan oleh rasio belaka.

Kritik dalam Arti Hegelian. Menurut Teori Kritis Hegel mengembangkan konsep Kritik dengan cara yang berbeda dari Kant, bahkan Hegel mengkritik epistemologi Kant. Menurut Hegel, rasio bersifat kritis tidak dengan cara trandental dan ahistoris, sebagaimana ditemui dalam kritisisme Kantian. Rasio menjadi kritis justeru kalau ia menyadari asal-usul pembentukannya sendiri. Rasio bukanlah kesadaran lengkap yang bebas dari rintangan-rintangan dalam sejarah umat manusia dan alam, melainkan merupakan proses menjadi semakin sadar justeru dalam rintangan-rintangan itu.

Kritik dalam arti Hegel tak lain dari “refleksi” atau “refleksi-diri” atas rintangan-rintangan, tekanan-tekanan dan kontradiksi-kontradiksi yang menghambat proses pembentukan-diri dari rasio dalam sejarah. Dengan kata lain, kritik juga berarti refleksi atas proses menjadi sadar atau refleksi atas asal-usul kesadaran. Secara singkat, kritik berarti negasi atau dialektika, karena bagi Hegel kesadaran timbul melalui rintangan-rintangan, yaitu dengan cara menegasi atau mengingkari rintangan-rintangan itu.

Kritik dalam Arti Marxian. Menurut Teori Kritis, jika Hegel mengembangkan konsep kritik dalam konteks filsafat idealismenya, Marx mengembangkan konsep ini dalam rangka materialismenya. Dalam pandangan Marx, kritik dalam filsafat Hegel masih kabur dan membingungkan karena ia memahami sejarah secara abstrak. Sejarah bukanlah sejarah konkret dari manusia yang berdarah-daging, melainkan sejarah kesadaran atau sejarah rasio. Dengan cara idealistis itu, seperti juga dengan cara transendental, kritik tidak menghasilkan apa-apa bagi praxis karena tidak jelas sasaran pragmatisnya. Marx mendaratkan idealisme Hegel ini menjadi materialisme sejarah yang bersifat praktis emansipatoris dan bersamaan dengan itu, konsep kritik diterapkan dalam sejarah yang konkret dari masyarakat yang nyata.

Perbedaan Teori Kritis dengan Teori Tradisional

Yang merupakan ciri khas Teori Kritik Masyarakat ialah bahwa teori itu, berbeda dengan pemikiran filsafat yang tradisional (dari Hegel dan Husserl ke Heidegger) tidak bersifat kontemplatif semata, dan tidak dimaksudkan untuk menjadi lamunan beberapa filsuf jauh dari masyarakat yang real. Melainkan Teori Kritis memandang diri sebagai pewaris cita-cita Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris: teori itu mau mengembalikan kemerdekaan dan masa depan manusia. Teori Kritis tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan, mengkategorisasikan, mengatur, melainkan mengubah .

Secara demikian, di satu pihak, Teori Kritis “menghapuskan” filsafat sejauh filsafat sebagai teori semata-mata: filsafat harus menjadi teori yang mau tidak mau harus membuahkan praksis untuk suatu perubahan masyarakat. Di lain pihak, Teori Kritis tidak merupakan suatu cabang sosiologi semata-mata, melainkan benar-benar menjadi suatu sosiologi kritis (critical sociology). Maksudnya, Teori Kritis tidak berhenti pada analisa data-data, melainkan mencari terus secar kritis dengan suatu pengandaian akan adanya “kebenaran” yang melebihi data-data tersebut. Atau juga dapat dikatakan bahwa, tugas utama Teori Kritis adalah menembus secara kritis suatu realitas sosial untuk mengetahui esensi realitas tersebut. Dan menurut Adorno, esensi itu adalah sesuatu yang tersembunyi di balik permukaan dari apa yang nampak atau dari fakta-fakta yang diperkirakan.


Kesimpulan

Teori Kritik sebagaimana yang dimaui oleh para pendiri awal Mazhab Frankfurt adalah pertama-tama hendak menimbulkan kesadaran bahwa suatu filsafat masyarakat tanpa penyelidikan empirik hanya akan menghasilkan kerangka pemikiran yang hampa, yang tidak memberikan keinsyafan apapun mengenai struktur masyarakat yang ada. Tetapi sebaliknya, penyelidikan empirik akan merupakan kegiatan yang sia-sia, bila tidak disertai kerangka kefilsafatan yang mewadahi serta memberi makna pada penyelidikan tersebut .

Sekalipun Teori Kritis mengambil inspirasi dari ajaran Marx, tidak berarti ia menjadi pengikut setia bagi Karl Marx sendiri. Karena menurut Teori Kritis, analisa-analisa Marxis sering lebih bersifat dogma daripada ilmu . Yang dihangatkan kembali dalam Teori Kritis bukanlah teori Marx yang usang, melainkan maksud dasar Marx, yaitu pembebasan manusia dari segala belenggu, pengisapan dan penindasan.

Namun demikian, dalam beberapa hal penting Mazhab Frankfurt malah menyimpang dari keortodokan Marxisme, sehingga mereka sering dianggap dan dituduh sebagai kelompok murtad dan revisionis. Tuduhan tersebut untuk beberapa hal dapatlah dibenarkan. Pertama, misalnya, mereka tidak lagi menganggap proletariat sebagai sebagai kelas revolusioner. Kaum proletar yang dulu diunggulkan sebagai agen yang akan mengubur kapitalisme, malah menjadi bagian dari masyarakat dan menjadi fungsi untuk melestarikan masyarakat semakin mapan. Kedua, Mazhab Frankfurt juga menolak pemakaian kekerasan atau revolusi fisik yang menjadi ciri khas Marxisme, dan ketiga, ketika revolusi Bolshevik pecah Mazhab Frankfurt tidak begitu antusias sebagaimana rekan-rekannya yang marxis, bahkan dikemudian hari mereka menolak negara Rusia yang totaliter .

Seluruh program Teori Kritis Mazhab Frankfurt dapat dikembalikan pada sebuah manifesto yang ditulis di dalam Zeitschrift tahun 1957 oleh Horkheimer. Di dalam artikel itu konsep “Teori Kritis” untuk pertama kalinya muncul. Artikel yang dimaksud adalah Traditionelle und kritische Theorie (Teori Tradisional dan Teori Kritis). Di dalam manifesto itu, konsep Teori Kritis muncul dalam kritiknya terhadap Teori Tradisional.

Dalam pandangan tradisional, teori adalah jumlah keseluruhan dari proposisi-proposisi tentang suatu subjek. Proposisi-proposisi itu terjalin satu sama lain sehingga berbentuk semacam susunan dimana hanya beberapa saja menjadi proposisi dasar sedang proposisi lainnya adalah penurunan dari proposisi dasar tersebut. Makin sedikit proposisi-proposisi dasar, makin kokoh dan sempurna suatu teori. Secara demikian, tujuan dari teori tradisional adalah membangun konsep-konsep umum mengani semua hal. Ini nampak dalam cita-citanya yang selalu ingin meraih a universal systematic science atau teori tradisional berkinginan untuk menjadikan proposisi-proposisi dasarnya menjadi semacam mathesis universalis.

Cara kerja yang lazim dipakai oleh Teori Tradisional adalah cara kerja deduktif, yaitu cara kerja yang bertolak dari dari hukum-hukum yang telah berhasil dirumuskan dan bergerak maju menuju fakta-fakta kongkret yang dipandang tunduk pada hukum-hukum itu. Karena hukum dirumuskan dari kejadian-kejadian kongkret dan empiris, Teori tradisional juga bekerja dengan cara induktif, yaitu bertolak dari pengamatan data khusus, lalu mengambil kesimpulan umum darinya menjadi suatu ‘hukum’. Dengan kedua metode itu, Teori Tradisional menjadi apa yang disebut Husserl sebagai “sistem tertutup dari proposisi-proposisi bagi ilmu pengetahuan sebagai keseluruhan”.

Sebagai “sistem tertutup” dan penyertaan konsep-konsep umum dalam bangunan paradigmanya, Teori Tradisional memandang seluruh teori yang dihasilkannya hanyalah sebagai peralatan tekhnis untuk menganalisa apa saja dan dapat dipergunakan pada setiap kesempatan. Dengan ini, Teori Tradisional pada kenyataannya bersifat netral, karena ia hanya menyediakan sebagai alat semata.*** Wallahu a’lam bi-Shawab

1 Response to "Theorie In Praktischer Absicht"

1 | kenz

February 16th, 2009 at 1:55 am

Avatar

lieur… lieur… lieurrrrrrrrrrrrrrrrr…..!!

Comment Form

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah kumpulan catatan sewaktu. Mungkin tidak terbaca, apalagi terpahami, utuh. Tapi, ia pada dirinya cukuplah sekadar bisa menampung apa yang mungkin terangkum dari angan, imaji, atau nalar yang tidak selamanya tenang dan hati-hati.


ShoutMix chat widget