(Dimuat di HU Kompas, Oktober 2008
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, makna dan pesan moral yang bagaimanakah yang bisa digali dari perayaan Idul Fitri?
Menurut keyakinan kaum muslimin, Idul Fitri bukanlah peristiwa biasa. Disamping sebagai lonceng pemberitahu berakhirnya ibadah puasa, Idul Fitri diyakini sebagai peristiwa keagamaan sarat makna.
Secara spiritual, Idul Fitri adalah suatu momen yang memberikan kabar bahwa manusia bertemu kembali dengan bentuknya yang asli dan sejati, yaitu “kesucian” (fitrah) setelah berlatih melalui ibadah puasa selama sebulan.
Kembali ke fitrah adalah kembali pada kondisi normal. Suatu bentuk kehidupan manusia yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan ruhani. Kembali ke fitrah berarti juga kembali pada bentuk dan pola kehidupan manusia yang wajar, tidak rakus dan berlebihan.
Perjanjian primordial
Akar ontologis pengertian Idul Fitri sebagai kembali ke keadaan suci itu berasal dari ajaran dasar agama yang mendaku bahwa manusia diciptakan Tuhan dalam fitrah kesucian dengan adanya “perjanjian primordial” (‘ahd, primordial covenant) antara manusia dengan Tuhannya.
Perjanjian primordial itu berbentuk kesanggupan manusia untuk mengakui dan menerima Tuhan sebagai satu-satunya sosok yang wajib disembah (QS.7:172). Karena setiap jiwa manusia menerima persaksian perjanjian primordial itu, maka setiap orang dilahirkan dengan pembawaan alami untuk “menemukan” kembali Tuhannya (Nurcholish Madjid, 2000).
Berdasarkan kenyataan ini, dapatlah ditegaskan bahwa Idul Fitri adalah perayaan sakral ketika manusia menemukan kembali (rediscovery) Yang Suci (the Sacred) sebagi alpha (awal) dan omega (akhir) dari eksistensi manusia. Ia adalah momen spiritual yang mendedahkan suatu penegasan bahwa sejatinya manusia itu terikat dan senantiasa punya hubungan dengan yang Origin, asalnya.
Setelah Yang Suci (the Sacred) ditemukan dan kesadaran tentang adanya keterkaitan dengan yang Origin diingatkan, bagaimanakah mengoperasikannya secara kongkrit supaya ia menjadi dinamo kesadaran yang sanggup menggerakkan manusia menjadi lebih baik dan bermartabat?
Pada kenyataannya, hasrat untuk kembali kepada Tuhan tidak selalu tersalur dengan baik dan benar. Di sepanjang perjalanan untuk menemukan kembali yang Origin sebagai asal muasal kehidupan, manusia kerap tergoda oleh bujuk rayu kehidupan dunia. Karena itu, untuk dapat memulai hidup yang benar, pertama-tama manusia dituntut untuk membebaskan dirinya dari kepercayaan-kepercayaan palsu, sebagaimana secara tegas dinyatakan dalam “kalimat persaksian” (syahadat).
Menurut Ibnu Taymiyah, makna paling fundamental dari kalimat persaksian (syahadat) itu adalah suatu ikhtiar pembebasan diri dari segala belenggu dan jerat kepercayaan kepada tuhan-tuhan palsu, baik berupa hawa nafsu (kekuasaan, jabatan) ataupun ketaatan (kultus) kepada sesama makhluk lainnya.
Dalam tilikan kaum sufi, ikhtiar untuk membebaskan diri dari jerat kepercayaan terhadap tuhan-tuhan palsu itu seharusnya bermetamorfosa menjadi kesadaran menghadirkan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Sebab, sejatinya manusia secara potensial menyimpan seluruh sifat-sifat Tuhan. Bahkan dalam keyakinan Jalaluddin Rumi, ekspresi kecintaan seorang hamba pada Tuhannya adalah dengan meniru sifat-sifat-Nya.
Manusia sempurna
Secara spiritual, diyakini bahwa manusia menyimpan seluruh sifat-sifat Tuhan. Manakala sifat-sifat itu menjelma secara “sempurna” dan menjadi pusat orientasi dalam seluruh ucapan dan tindakan, manusia memperoleh status istimewa dan terhormat yang dalam bahasa Ibnu Arabi disebut dengan “Insan Kamil” (Manusia Sempurna).
“Manusia sempurna” adalah sosok yang mampu menerjemahkan sifat-sifat baik Tuhan dan mengejawantahkannya dalam kehidupan. Dan dalam Islam, personifikasi tentang ketinggian akhlak ini ada pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan par excelence (uswatun hasanah) yang harus diikuti oleh para pengikutnya.
Menurut kaum sufi, manusia sempurna adalah ultimate goal (tujuan tertinggi) yang harus diwujudkan oleh manusia melalui dua tahapan. Pertama, takholli (pengosongan). Di sini, manusia harus sanggup untuk membuang dan mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela. Kedua, tahalli (pengisian), diri yang telah kosong dari sifat-sifat tercela diupayakan untuk diisi oleh sifat-sifat Tuhan.
Dengan demikian, Idul Fitri sebagai momen kembalinya manusia ke bentuk fitrahnya yang sejati dan suci itu adalah kesediaan mengganti perangai buruk (vitius, akhlaq al-Madzmumah) dengan perangai mulia (virtus, akhlaq al-Karimah).
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Idul Fitri akan dilihat sebagai peristiwa spiritual yang otentik dan sarat makna manakala di dalamnya ditemukan suatu kesadaran dan kesanggupan menerbarkan kebaikan, kejujuran, keadilan, bela rasa dan kecintaan terhadap sesama di tengah-tengah kehidupan.
Sungguh, Idul Fitri adalah tradisi suci (sacred tradition) yang menjadi sumbu memancarnya visi keruhanian baru bagi hadirnya sosok individu yang tidak hanya saleh secara individual tapi juga secara sosial. Semoga***