Radea Own


Let your work be a struggle. Let your peace be a victory (F. Nietzsche)

20 Feb, 2009

Reformasi apakah ini?

Posted by: admin In: Ngacapruk

Pengantar Redaksi Jurnal Wawasan

Setiap kali kita mendengar kata kebangkitan, kita bisa mengerti bahwa ia adalah situasi atau kondisi yang di dalamnya ada nafas kemenangan, ada gemuruh kebahagiaan dan spirit kegemilangan yang meluber melimpah ruah. Di titik ini, bisa juga dimaknai jika kebangkitan adalah capaian-capaian prestisius dari perjalanan suatu individu bahkan juga komunitas menuju puncak prestasi yang diidam-idamkan.

Tapi tengoklah perjalanan bangsa ini. Perhatikan dengan seksama nafas yang mengendus dari setiap hasrat manusia Indonesia dalam melakoni perjalanan hidupnya. Kesimpulan yang bisa ditarik bisa tampak seragam: Perjalanan bangsa ini masih berada di rel yang tampak salah. Langkah yang diayunkan masih terasa berat, oleng dan terantuk-antuk yang pada akhirnya manusia Indonesia masih terbata-bata untuk menemukan cahaya kebangkitan.

Sosok pemimpin memang datang dan pergi, tapi kehadirannya terasa tidak membawa energi yang meyakinkan bahwa dia adalah solusi dan jalan keluar dari sejumlah masalah berat yang menghimpit. Tak lebih, sosok pemimpin yang hadir itu hanya cakap berorasi dan piawai dalam mengolah kata yang hanya sesaat memukau tapi kemudian menguap entah kemana! Dan setelah itu, kita kemudian sadar bahwa rakyat harus berkali-kali kecewa dan tak putus dirundung derita.

Sepuluh tahun lalu kita pernah berharap, bahwa reformasi bisa menjadi semacam rumus penawar dan titik balik dari seluruh penderitaan yang dialami bangsa ini menuju kemenangan, sekaligus menuju kebangkitan. Tapi kemudian kita kecewa, sebab ternyata reformasi tidak membuahkan hasil apa-apa. Di sana-sini, kita melihat secara pasti bahwa kualitas kehidupan manusia Indonesia tetap saja tak beranjak menjadi lebih baik. Bahkan, tanpa diduga reformasi telah menjadi semacam pisau yang berhasil menguliti watak sesungguhnya dari bangsa ini.

Reformasi memperlihatkan kepada kita secara transparan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang sakit. Masyarakat yang tidak bisa mentolerir perbedaan dan bertenggang rasa terhadap kehadiran “yang-lain” atau “yang-berbeda”. Yang-lain atau juga yang-berbeda dengan kita selalu dipersepsi dalam kategori ancaman, instabilitas dan abnormal. Yang-lain ataupun yang-berbeda itu lantas ditohok sebagai iblis ataupun setan yang harus dilenyapkan.

Dalam situasi seperti ini, terjadi metamorposis terhadap wajah manusia Indonesia. Dalam sekejap, manusia Indonesia berganti muka menjadi makhluk jelmaan homo brutalis yang mahir mengolah otot dan kekerasan sebagai senjata epektif dalam berdialog dan menyelesaikan masalah, ketimbang menjadi homo sapiens yang seharusnya mengedepankan nurani dan akal sehat. Tengoklah kerusuhan Mei 1997 sampai peristiwa pembakaran mesjid Ahmadiyah di Sukabumi.

Apa yang tersisa dari reformasi? Reformasi pada akhirnya menyisakan satu kesimpulan: Kontradiksi tidak bisa ditoleransi, perbedaan adalah skandal yang tak bisa dimaafkan dan karena itu ia adalah aurat yang harus disembunyikan dan ditutupi serapat mungkin.

Dengan kesimpulan itu pula, tak bisa disangkal, kita telah membunuh pilar-pilar demokrasi. Sebab sejatinya, demokrasi adalah jalinan juga ketegangan yang tak putus-putusnya antara yang soleh dan sosok yang dianggap kafir sekalipun. Demokrasi adalah medan kurusetra yang mempertemukan setan yang antagonis dan malaikat yang protagonis. Demokrasi adalah geliat dari keharusan menerima dan bertenggangrasa terhadap sosok yang dianggap beda dan lain : brengsek, bejad ataupun aneh sekalipun.

Di luar sana –di arena politik dan kekuasaan, sepertinya kita tidak bisa berharap banyak bahwa demokrasi akan berjalan secara wajar dan tumbuh sebagaimana adanya. Tapi di sini, di ruang akademik kita bisa menggantungkan harapan bahwa demokrasi bisa menjadi spirit yang memungkinkan kita tetap menjadi sosok homo sapiens yang senantiasa memelihara nurani dan akal sehat. Di ruang akademik ini pula kita secara pasti bisa menyatakan bahwa perbedaan yang ditampilkan dengan kehadiran sosok “yang-lain” adalah energi yang dengannya kita ditantang untuk menampilkan eksistensi diri yang autentik. Autentisitas diri pada kenyataannya selalu diukur dan ditakar oleh kesediaan untuk meramu dan menerima perbedaan pandangan sebagai nutrisi yang bisa memperkaya wawasan dan pengetahuan kita. Benarkah?

2 Responses to "Reformasi apakah ini?"

1 | kenz

February 24th, 2009 at 2:04 am

Avatar

“Tapi kemudian kita kecewa, sebab ternyata reformasi tidak membuahkan hasil apa-apa…”

hmm… apa ga salah tuh..? menurut saya justru reformasi berhasil melahirkan para penghujat seperti bpk.. hohoho.. puasssss…!! puasssssssss…!! :D

2 | admin

February 24th, 2009 at 3:39 pm

Avatar

yah, reformasi juga menghasilkan manusia yang kecewa terhadap hidup dan juga terhadap cinta…..seperti kamu ken….terimalah itu sebagai takdir atau mungkin juga kutukan….hahahahahaha………….

Comment Form

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah kumpulan catatan sewaktu. Mungkin tidak terbaca, apalagi terpahami, utuh. Tapi, ia pada dirinya cukuplah sekadar bisa menampung apa yang mungkin terangkum dari angan, imaji, atau nalar yang tidak selamanya tenang dan hati-hati.


ShoutMix chat widget