Pengantar Redaksi Jurnal Wawasan
Bagi orang yang malas membaca rahasia sejarah, pergantian tahun adalah peristiwa biasa. Dalam kacamata yang serba biasa itu, gerak sejarah adalah linear atau suatu cronos (dalam bahasa Deleuze). Sebagai cronos, sejarah adalah rangkaian “kini” yang bisa diukur, diingat, dan disusun sebagai urutan. Barangkali, karena ini pulalah, kita jadi enggan untuk melihat hidup sebagai proses dan gelisah yang tak pernah usai. Sebagai peristiwa yang selalu dalam proses menjadi dan tak pernah berhenti.
Adakah cara lain memaknai, supaya hidup yang kita libati bukan sebagai hal yang biasa-biasa saja, bukan sebagai cronos? Menurut Deleuz, disamping cronos ada hal lain yaitu sejarah sebagai aion. Aion adalah usaha sadar disertai pengakuan untuk melihat sejarah sebagai peristiwa kreatif, peristiwa kejutan. Dengan ini, pergantian tahun adalah tempat bercermin, usaha simultan mematut-matut diri untuk pandai membuat tafsir dan mengambil pelajaran dari berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita.
Memaknai sejarah sebagai aion memang bisa meresahkan. Terkadang membuat cemas. Sebab, hidup tidak lagi dilihat sebagai urutan, sebagai arena tempat bergumulnya sebab dan akibat berlangsung. Tapi seperti menurut Goenawan Muhammad (2008), rasa cemas itu tak pernah bisa melumpuhkan manusia. Dalam waktu sebagai Aion, manusia seakan-akan terlontar. Ia mengalami kebebasan dari hukum sebab dan akibat, tapi dengan itu ia masuk di momen ”kejadian”. Seperti nada B minor yang muncul dalam harmoni, ”kejadian” tak berlangsung dalam waktu yang sudah disusun; ia justru membuka waktunya sendiri. Bahkan pada akhirnya ”kejadian” atau ”penciptaan” tak bisa selamanya berada dalam harmoni.
Di ujung Desember 2008, UIN sebagai Perguruan Tinggi yang meletakkan agama sebagai motor penggeraknya mengidap mimpi yang sangat mewah dan mentereng. Dengan meletakkan adagium Wahyu Memandu Ilmu di puncak pencapaian akademiknya, UIN seperti hendak menghentak sejarah pendidikan di negeri ini sebagai perguruan tinggi yang bisa menjinakan laju ilmu supaya tidak liar dan melewati batas yang tidak bisa ditolerir.
Wahyu Memandu Ilmu menurut perspektif sejarah sebagai aion adalah sejenis kesombongan. Sejenis keyakinan purba yang memandang agama (wahyu) sebagai mathesis universalis. Sebagai sumber kebenaran dan kesadaran, berdiri di pusat peradaban manusia. Sementara ilmu adalah adalah the other yang harus disadarkan, letaknya di pinggir dan sekawanan chaos yang harus tertibkan. Benarkah?
Kiranya, ilmu ataupun agama (wahyu) adalah dua perspektif berbeda yang ingin menjelaskan dunia dan kehidupan. Perspektif ilmu melihat alam sebagai dunia objektif atau fakta-fakta yang tunduk pada hukum-hukum kausal dan mekanistis. Di dalam ilmu (sains) makna bersangkutan dengan kebenaran faktual tentang proses-proses dalam dunia objektif itu. Sedangkan perspektif religius melihat alam dalam kaitannya dengan kenyataan transendental dan penghayatan eksistensial manusia. Berbeda dari kebenaran faktual, makna dalam agama bersangkutan dengan kebenaran eksistensial dan transendental tentang tujuan kehidupan manusia di dunia ini.
Jika posisi ini diterima, tidak perlu ada pemisahan antara keduanya ataupun mengistimewakan yang satu atas yang lainnya. Sebab, baik ilmu ataupun agama memiliki wilayah masing-masing dalam pencarian makna; yang satu tidak boleh direduksi kepada yang lain ataupun ada status istimewa tertentu yang satu ketimbang yang lainnya. Hanya dengan jalan itu ilmu (sains) dan agama tidak saling bercampur, tapi juga tidak saling mengisolasi, melainkan justru berkembang pada ranah dan perspektifnya masing-masing dalam pencarian makna. Benarkah?
Sejatinya, tak jadi soal, jika kita berdiri membelakangi dan tak mengamini adagium itu. Dunia akademik adalah dunia silang sengketa yang membiarkan penolakan dan persetujuan memperoleh tempat untuk berada. Dunia akademik adalah ruang yang mengijinkan kesalehan atau kekafiran sekalipun bersanding di tempat yang sama. Dunia akademik adalah medan kurusetra yang menguji kebenaran teori, dalil juga perspektif yang mustahil sekalipun.***