Radea Own


Let your work be a struggle. Let your peace be a victory (F. Nietzsche)

03 Mar, 2009

Maaf

Posted by: admin In: Ngacapruk

Pengantar Redaksi Jurnal Wawasan

Bisakah kita mengerti maaf dan kesalahan? Ibrahim bin Adham barangkali bisa. Suatu waktu, ia bertawaf mengelilingi Kabah. Di depan rumah Tuhan itu dada Ibrahim bergemuruh, bibirnya bergetar seraya berdo’a, “ya, Tuhanku, lindungilah diriku dari perbuatan dosa terhadap-Mu.”
Syahdan, terdengarlah suara yang mengguntur  seraya menjawab, “ya, Ibrahim, kau minta pada-Ku untuk melindungimu dari dosa, dan semua hamba-Ku juga berdo’a serupa itu. Jika kukabulkan do’a kalian, kepada siapa gerangan nanti akan kutunjukkan rasa belas-Ku dan kepada siapa akan kuberikan ampunan-Ku?”
Pembaca, melalui kisah ini kita bisa mengerti, bahwa Tuhan menampakkan sifat-Nya secara menggetarkan: dalam kebesaran-Nya, Tuhan menerima kenyataan manusia sebagaimana adanya –manusia yang tak bisa sepenuhnya tercegah dari dosa dan kesalahan.
Dengan merasakan dosa dan kesalahan, kita merasakan mana kebajikan dan kebenaran. Dengan melihat dosa dan kesalahan kita tahu apa artinya kedhaifan dan kerendahan hati. Bahkan “melalui dosa kita bisa dewasa”, demikian menurut penyair Soebagio Sastrowardojo.
Di saat itulah kita merenungkan sifat-sifat Tuhan dan kita gemetar, dan kita kemudian tahu ada cakrawala yang luar biasa dan kita terhenyak diambangnya. Sifat-sifat Tuhan itu sangat sempurna. Kita harus menambatkannya dalam diri kita, tapi itu adalah proses tanpa akhir. Manusia adalah makhluk yang membelum selama eksistensinya, makhluk yang selalu dalam proses menjadi dalam rentangan kesejarahannya.
Betul, kita memang tahu bahwa pada akhirnya kita tidak akan bisa menjadi Dia. Maka, apa alasan seseorang untuk tidak memaafkan kesalahan manusia lain -–suatu hal yang secara simbolis dilakukan setiap lebaran. Karena itu, lebaran atau pun peristiwa idul fitri itu adalah saat dimana manusia “dilahirkan” kembali. Sehingga tepatlah apa yang dikatakan Agustinus bahwa kapasitas manusia untuk memulai sesuatu yang baru berakar di kelahiran. Kelahiran memberi kepercayaan dan harapan karena manusia-manusia baru setiap waktu lahir ke dunia. Setiap manusia yang baru lahir itu unik, dan masing-masing mampu menghadirkan inisiatif baru yang dapat menghentikan atau membelokan rantai kejadian yang digerakkan oleh tindakan-tindakan manusia sebelumnya.
Maaf-memaafkan sudah menjadi peristiwa religi sekaligus peristiwa budaya yang sedemikian kuatnya dalam kehidupan masyarakat kita. Maaf-memaafkan adalah peristiwa logika, bahwa manusia hidup ‘untuk’ menciptakan plus dan minus, baik dan buruk, konstruktif dan destruktif, pahala dan dosa. Sangat tidak logis jika kehidupan kita tidak berorientasi pada pertumbuhan: setiap pohon pun berkembang setinggi mungkin, sejauh titik optimum takdir kemakhlukannya. Pohon tidak tumbuh ke dalam bumi: artinya, manusia senantiasa berupaya tidak menciptakan minus-minus nilai. Ia menginginkan plus tidak sekedar nilai atau titik impas.
Maaf dapat menjadi penawar, karena maaf bukan sekadar re-act. Maaf adalah sebuah tindakan baru yang tidak lagi diikat oleh tindakan sebelumnya, sehingga maaf membebaskan orang yang memaafkan dan dimaafkan, dari konsekuensi tindakan sebelumnya. Itulah sebabnya, Hannah Arendt mengimani bahwa momen memaafkan adalah titik sekaligus kunci untuk tindakan dan untuk kebebasan.***

No Responses to "Maaf"

Comment Form

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah kumpulan catatan sewaktu. Mungkin tidak terbaca, apalagi terpahami, utuh. Tapi, ia pada dirinya cukuplah sekadar bisa menampung apa yang mungkin terangkum dari angan, imaji, atau nalar yang tidak selamanya tenang dan hati-hati.


ShoutMix chat widget