Pengantar Jurnal Wawasan
Adakah yang dapat kita mengerti dari hak asasi? Dalam perjalanan pulang dari sebuah kota, saya membaca salah satu tulisan dalam majalah BASIS edisi terbaru. “Di sekitar hak asasi masih banyak persoalan, ini disebabkan oleh tidak adanya konsep manusia yang terumuskan secara baik”, demikian menurut Bagus Takwin, salah satu penulis dalam majalah itu.
Dapatkah kita merumuskan secara akurat sesosok manusia? Tak jelas pungkas. Sebab, filsafat, sosiologi ataupun politik tak juga fasih benar dalam menafsir makhluk yang satu ini. Yang saya ingat dari pelajaran filsafat disampaikan guru-guru filsafat saya adalah, bahwa manusia adalah sosok yang selalu “membelum” dalam eksistensinya dan selalu menjadi makhluk yang dalam proses “menjadi”. Dengan demikian, tak ada rumus pasti yang bisa secara jelas mampu mendefinisikan apa itu manusia. Tak adakah penjelasan yang memadai atau sekadar menjadi gambaran yang dapat menuntun kita untuk memperoleh terangnya sosok manusia dan dunianya.
Barangkali, Heidegger dapat diajukan untuk suatu pengecualian dan ia punya tafsir yang unik tentang manusia. Dalam kalimatnya yang menyihir, manusia menurut Heidegger adalah Mensch-sein ist in-der-welt-sein dan Mensch-seins ist Mit-sein. Keberadaan manusia merupakan keberadaan-dalam-dunia, bersama manusia lain, dan dengan demikian dunia manusia adalah dunia bersama. Dimampatkan, kebersamaan dengan manusia lain merupakan modus keberadaan manusia.
Secara sederhana, seturut dengan rumusan yang dikemukakan oleh Heidegger di atas, kita bisa memaklumi bahwa, manusia pada praktiknya adalah sosok yang selalu terhubung, bermuka-muka dengan yang lain. Sekalipun manusia memiliki kehendak bebas dan selalu dituntut pertanggungjawaban atas tindakannya, sejatinya, ia tak pernah bisa terlepas sama sekali dari dunia, dunia bersama manusia lainnya.
Di tengah kehidupan bersama manusia lainnya, manusia memerlukan aktualisasi diri. Menurut Takwin, inilah hak manusia yang paling tinggi. Sebab aktualisasi diri menjadi dasar dan motif bagi upaya manusia untuk mengembangkan dirinya dalam dunia bersama yang berefek kepada pengembangan manusia lain dalam dunia bersama. Pengembangan manusia dalam dunia bersama berarti juga pengembangan peradaban manusia. Potensi menjadi makhluk yang melampaui dunia merupakan potensi yang paling penting untuk diaktualisasi. Tentu, kata melampaui di sini tidak harus dipahami dalam pengertian egosentrik, melainkan dalam arti memberikan jejak-jejak kebaruan dan menjadi sumbu peletup kepada dunia dalam arti yang konstruktif.
Melampaui dunia dapat juga diartikan sebagai tindak menghasilkan hal-hal baru yang bisa memperkaya dunia, membuat dunia menjadi terang, memberikan inspirasi dan memotivasi manusia-manusia lain untuk bergiat melakukan tindak konstruktif dan bermanfaat.
Sejatinya, inilah elan vital yang menjadi ruh Jurnal Wawasan yang rutin “memaksakan” diri hadir kepada Anda. Dengan tulisan-tulisannya, Jurnal Wawasan ingin memaknai dunia manusia sebagai dunia-bersama seturut dengan apa yang menjadi keyakinan Heidegger, yaitu sebagai medan gravitasi bagi upaya menemukan otentisitas diri, otentisitas manusia-bersama atas dasar tindak aktualisasi diri dan upaya-upaya konstruktif dalam rangka melampaui dunia.
Sebagai dunia yang dihayati bersama, Jurnal Wawasan menawarkan kepada Anda cara baca yang beragam: sebagai bukti penghargaan atas pluralitas pikiran dan berenekanya kehendak dan nafsu untuk mengerti kenyataan.***