Belum selesai aku mengatakan banyak hal kepadamu Bintangku. Sebab makanan masih bersisa di tanganku. Kepulan asap rokok yang kusemburkan ke udara masih menari di sekitarku. Sebagiannya membumbung di langit kamar membentuk gambar tentang beragam cerita dan peristiwa. Sesisanya menyebar memburu gemulai malam, dan mengukir gelombang cemas dari banyak berita yang datang tak terduga.Tapi seperti katamu, “pancangkanlah tiang kesabaran, tajamkanlah mata kewaspadaan dan biarkan kebajikan menjadi tongkat penjaganya”. Tentu saja, aku setuju.
Belum selesai aku mengatakan banyak hal kepadamu Bintangku. Sebab hidup adalah beragam pilihan. Barangkali, ia adalah pohon dengan dahan dan ranting tak berbilang. Di sebelah mana saja kau tentukan titik pastinya. Pada dahan dan ranting mana saja kau lekatkan cengkramanmu, itulah saat ketika janji tak boleh menyempal diingkari. Itulah waktu ketika ludah tak baik untuk dijilat kembali. Tapi manusia tak selalu kukuh dalam niat yang teguh. Sebab seperti katamu, hidup adalah warna. Gemuruh kemungkinan yang menampilkan berjuta kesempatan dan cara, bahkan untuk berdusta dan menjadi terhina sekalipun. Dan itulah kita yang menolak mengingkari rasa yang tibatiba sudah tertanam jauh di sana.
Belum selesai aku mengatakan banyak hal kepadamu Bintangku. Sebab aku menyukai tertawa dan kau membenci kepurapuraan. Sungguh, tak selalu mudah memampatkanmu dalam sosok yang tanpa noda. Selalu saja ada yang nihil untuk digenggam dalam keyakinan. Selalu ada yang mengelak untuk dikatakan dengan kepastian. Mungkin aku terhasut tipuan. Bisa saja aku tergoda gemuruh kabar tak bernalar: kamu adalah misteri dimana guratan wajah, sapuan gincu, suara merdu, gelak tawa dan tangis berpilin dalam lipatan yang sukar dikenali wajahnya. Tapi untuk itulah aku kukuh berdiam mengagumimu. Aku pastikan titik pijakku tak goyah kemanamana. Tak sungkan untuk aku katakan, “jika kesempurnaanmu tak sempat aku jejakkan dalam kata, kusimpan kebaikanmu di relung hatiku”.
Belum selesai aku mengatakan banyak hal kepadamu Bintangku. Sebab sejarah tak selalu datang membawa nasib yang muram. Pun, tak juga menampilkan cerita yang tanpa cela. Mungkin waktu tak mengijinkan kita untuk selalu bertemu. Mungkin harapan tak selalu memampukan kita berjumpa dalam kesempatan. Tak perlu disesali, sebab ada masa ketika nasib dicipta oleh harapan yang tak pernah sampai. Dan kita butuh itu. Entahlah.
Belum selesai aku mengatakan banyak hal, sebab kamu adalah Bintangku. Cahaya penuh warna di lubuk hatiku dan aku percaya, cinta sejati itu mungkin ada di kita.***
Bandung, 2 April 2010