Radea Own


Let your work be a struggle. Let your peace be a victory (F. Nietzsche)

05 May, 2010

Untuk Kawan, Entah Siapa (V)

Posted by: admin In: Catatanku

Di ujung senja, ketika hujan masih kerasan memberi salam, kau menemukannya dengan suara yang menjejakkan pesan istimewa. Ungkapannya memberi isi pada semangat dan takarannya menjelmakan bulir mutiara di tenaga. Dia bertutur tentang percaya dan sekam rindu yang tak bosan membangunkannya. Namun seperti yang dia keluhkan, lidahmu bisu mengeja makna. Bibirmu ringkih menafsir tanda baca pada aksara. Benar, ketika dia mengatakan, kau hanya fasih mendawamkan tawa. Hanya lantang membacakan ejekan menggoda.

Di ujung senja, ketika langit masih dibalut butiran hujan. Kau mendapati pesan yang sempat dia tuliskan. Ia mengabarkan ikhwal serupa tentang rasa yang selalu tertanam jauh di sana. Tandanya tegas dengan sapuan garis yang sangat jelas. Kawan, aku cukup mengerti dan bisa mengamini. Tak sungkan bagimu untuk menyiraminya dengan niat tentang rasa yang tak boleh mengembara kemanamana. Tentang pikiran yang tak diijinkan memainkan drama yang ceritanya hanya bualan dan rayuan semata. Seperti juga pernah aku katakan, kehadirannya yang tibatiba bagimu, telah menjelmakan percikan gelora juga semangat. Di album kehidupan yang serba fana ketika keajaiban kadangkadang menghadirkan pesona, sosoknya menyuguhkan tanda sempurna dalam hidupmu seperti lukisan dalam kanvas yang menampilkan gambar kaya warna.

Di ujung senja, ketika gelap merambat menyergap. Kuamati kau mengatur kata dalam hasutan gigil juga bujukan lapar yang kian menjalar. Aku tahu, pikiranmu tak bisa tenang. Amatanmu tentang banyak peristiwa tibatiba menggelepar. Seperti pohon dihantam badai, ia tibatiba rubuh meninggalkan rasa yang entah bagaimana kau bisa mengejanya. “Maafkan aku, ingatanku tentang pilihan kata tibatiba tak berbekas sempurna. Lidahku seolah renta menggumamkan ucapan pujian juga keyakinan”, ” begitu lirihmu. Entahlah, jutaan cacing diperutmu mungkin berhasil menjinakan hasrat mendapatinya. Semangatmu tibatiba layu untuk menemukannya. Seperti yang aku baca, tulisanmu terasa hambar dengan sedikit warna yang bisa dia kenali. Sungguh, ia sekedar tuturan yang pucat dan kau mengakuinya.

Di ujung senja, ketika hujan berhenti mengabarkan pesan. Kau mendapati “kelokan dua” di akhir frasa. Ia menyambarmu bagai petir memuntahkan getir. Ia mungkin sandi yang menyimpan banyak arti. Ia mungkin metafora pilihan yang harus kau tentukan, kau pastikan titik berangkatnya. Entahlah. Yang aku tahu, kau telah menyelinap di kesempatan ketika segalanya seperti mudah. Kau lupa menyadari bahwa sejarah tak selalu bisa dipaksa dengan keharusan dan kemestian menista logika dan pikiran sehat.

Di ujung senja, ketika segalanya hening dan diam. Aku katakan kepadamu: “Harusnya kau rehat dari nafsu memandu sejarah. Berhenti menggariskan iman Hegelian yang mematri keyakinan di ujung sana. Sebab, ini tak bisa kemanamana dan tak akan pernah kemanamana.” Entahlah.***

Bandung, 7 Maret 2010

No Responses to "Untuk Kawan, Entah Siapa (V)"

Comment Form

Tentang Blog Ini

Blog ini adalah kumpulan catatan sewaktu. Mungkin tidak terbaca, apalagi terpahami, utuh. Tapi, ia pada dirinya cukuplah sekadar bisa menampung apa yang mungkin terangkum dari angan, imaji, atau nalar yang tidak selamanya tenang dan hati-hati.


ShoutMix chat widget