16 Mar, 2009
Posted by: admin In: Sosial
Dimuat di HU Pikiran Rakyat tanggal 13 Maret 2009
Perhelatan pemilu 2009 kian mendekati waktu pelaksanaannya. Para kontestan politik (caleg, partai) sibuk menyusun siasat pemenangan melalui lobi, koalisi, dan strategi dukung mendukung. Media cetak dan elektronik juga tampak gemerlap dan berubah menjadi arena persaingan iklan dan kampanye tentang niat dan janji menjadi yang terbaik buat rakyat. Sejatinya, fenomena ini menarik untuk ditelisik.
Melalui iklan juga promosi, para kontestan pemilu tampaknya sedang menulis sejarah baru bagi kehidupan politik di republik ini. Yang menarik, sejarah yang hendak ditulis melalui iklan atau pun kampanye itu, disamping memiliki kekhasannya masing-masing juga terlihat adanya kesamaan untuk merujuk atau mempertautkan diri dengan peristiwa atau pun tokoh besar dari sejarah masa lampau.
Read the rest of this entry »
Pengantar Jurnal Wawasan
Adakah yang dapat kita mengerti dari hak asasi? Dalam perjalanan pulang dari sebuah kota, saya membaca salah satu tulisan dalam majalah BASIS edisi terbaru. “Di sekitar hak asasi masih banyak persoalan, ini disebabkan oleh tidak adanya konsep manusia yang terumuskan secara baik”, demikian menurut Bagus Takwin, salah satu penulis dalam majalah itu.
Dapatkah kita merumuskan secara akurat sesosok manusia? Tak jelas pungkas. Sebab, filsafat, sosiologi ataupun politik tak juga fasih benar dalam menafsir makhluk yang satu ini. Yang saya ingat dari pelajaran filsafat disampaikan guru-guru filsafat saya adalah, bahwa manusia adalah sosok yang selalu “membelum” dalam eksistensinya dan selalu menjadi makhluk yang dalam proses “menjadi”. Dengan demikian, tak ada rumus pasti yang bisa secara jelas mampu mendefinisikan apa itu manusia. Tak adakah penjelasan yang memadai atau sekadar menjadi gambaran yang dapat menuntun kita untuk memperoleh terangnya sosok manusia dan dunianya.
Read the rest of this entry »
Pengantar Redaksi Jurnal Wawasan
Bisakah kita mengerti maaf dan kesalahan? Ibrahim bin Adham barangkali bisa. Suatu waktu, ia bertawaf mengelilingi Kabah. Di depan rumah Tuhan itu dada Ibrahim bergemuruh, bibirnya bergetar seraya berdo’a, “ya, Tuhanku, lindungilah diriku dari perbuatan dosa terhadap-Mu.”
Syahdan, terdengarlah suara yang mengguntur seraya menjawab, “ya, Ibrahim, kau minta pada-Ku untuk melindungimu dari dosa, dan semua hamba-Ku juga berdo’a serupa itu. Jika kukabulkan do’a kalian, kepada siapa gerangan nanti akan kutunjukkan rasa belas-Ku dan kepada siapa akan kuberikan ampunan-Ku?”
Pembaca, melalui kisah ini kita bisa mengerti, bahwa Tuhan menampakkan sifat-Nya secara menggetarkan: dalam kebesaran-Nya, Tuhan menerima kenyataan manusia sebagaimana adanya –manusia yang tak bisa sepenuhnya tercegah dari dosa dan kesalahan.
Read the rest of this entry »