Pengantar Jurnal Wawasan
Adakah yang dapat kita mengerti dari hak asasi? Dalam perjalanan pulang dari sebuah kota, saya membaca salah satu tulisan dalam majalah BASIS edisi terbaru. “Di sekitar hak asasi masih banyak persoalan, ini disebabkan oleh tidak adanya konsep manusia yang terumuskan secara baik”, demikian menurut Bagus Takwin, salah satu penulis dalam majalah itu.
Dapatkah kita merumuskan secara akurat sesosok manusia? Tak jelas pungkas. Sebab, filsafat, sosiologi ataupun politik tak juga fasih benar dalam menafsir makhluk yang satu ini. Yang saya ingat dari pelajaran filsafat disampaikan guru-guru filsafat saya adalah, bahwa manusia adalah sosok yang selalu “membelum” dalam eksistensinya dan selalu menjadi makhluk yang dalam proses “menjadi”. Dengan demikian, tak ada rumus pasti yang bisa secara jelas mampu mendefinisikan apa itu manusia. Tak adakah penjelasan yang memadai atau sekadar menjadi gambaran yang dapat menuntun kita untuk memperoleh terangnya sosok manusia dan dunianya.
Read the rest of this entry »
Pengantar Redaksi Jurnal Wawasan
Bisakah kita mengerti maaf dan kesalahan? Ibrahim bin Adham barangkali bisa. Suatu waktu, ia bertawaf mengelilingi Kabah. Di depan rumah Tuhan itu dada Ibrahim bergemuruh, bibirnya bergetar seraya berdo’a, “ya, Tuhanku, lindungilah diriku dari perbuatan dosa terhadap-Mu.”
Syahdan, terdengarlah suara yang mengguntur seraya menjawab, “ya, Ibrahim, kau minta pada-Ku untuk melindungimu dari dosa, dan semua hamba-Ku juga berdo’a serupa itu. Jika kukabulkan do’a kalian, kepada siapa gerangan nanti akan kutunjukkan rasa belas-Ku dan kepada siapa akan kuberikan ampunan-Ku?”
Pembaca, melalui kisah ini kita bisa mengerti, bahwa Tuhan menampakkan sifat-Nya secara menggetarkan: dalam kebesaran-Nya, Tuhan menerima kenyataan manusia sebagaimana adanya –manusia yang tak bisa sepenuhnya tercegah dari dosa dan kesalahan.
Read the rest of this entry »
24 Feb, 2009
Posted by: admin In: Artikel
Dimuat di Harian Bandung Ekspres, Pebruari 2009
Semenjak reformasi 1998 bergulir, perjalanan demokrasi di Indonesia masih tertatih-tatih. Demokrasi yang kerap diafirmasi sebagai pilihan dan sistem terbaik dalam mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat belum menampilkan diri sebagai sosok yang sanggup memulihkan dan menjaga martabat republik ini dari sejumlah krisis yang mendera.
Kiranya, demokrasi yang ditahbis menjadi semacam volonte generale (kehendak umum) yang harus diwujudkan di republik ini telah ikut menyumbangkan ketegangan-ketegangan dan berperan serta dalam meningkatkan frekuensi kekerasan dan tindakan-tindakan anarkis di masyarakat. Atas nama demokrasi, masyarakat kita menjadi masyarakat yang tidak sabaran, sulit menerima kekalahan, mudah terpancing oleh hasutan dan terampil mengelola perbedaan menjadi pemantik untuk menebarkan kebencian dan teror.
Read the rest of this entry »